Dia menegaskan tidak ada pihak dari Temasek yang menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan terkait bursa mana pun di kawasan ini.
“Tidak seorang pun dari Temasek, baik institusi maupun individu yang bekerja di dalamnya, pernah menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan apa pun yang mereka ambil terkait bursa di kawasan ini. Tuduhan tersebut sama sekali tidak benar,” ujar Fock.
Tuduhan Lutfi muncul setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Lutfi mengungkapkan bahwa dirinya mendengar bahwa salah satu eksekutif GIC, Rachel Goh yang menekan MSCI secara langsung agar segera menurunkan status pasar saham Indonesia.
Sementara itu, MSCI menyoroti sejumlah persoalan pada bursa Indonesia, terutama dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, sebagai bagian dari pertimbangan dalam evaluasi tersebut. Pengumuman itu memicu tekanan tajam di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 16 persen sebelum memangkas sebagian penurunan dan diperdagangkan di sekitar level 5.300.
Presiden Prabowo Subianto pada Rabu turut menanggapi persoalan tersebut dengan menyatakan Indonesia tidak akan gentar menghadapi MSCI. Dia pun menuding MSCI berupaya mengintimidasi Indonesia.