Nilai tersebut berasal dari selisih nilai wajar aset GMR sekitar Rp6,7 triliun dengan biaya perolehan Rp844 miliar, sehingga memberikan keuntungan akuntansi yang besar dan menutup kerugian dari penghapusan piutang, persediaan, penjualan aset tetap, serta hilangnya kendali atas entitas anak PT Dire Pratama.
Meski bersifat satu kali (one-off), kinerja operasional DEWA tetap menunjukkan perbaikan.
Core profit sepanjang 2025 naik menjadi Rp573 miliar dari Rp65 miliar pada 2024, didorong ekspansi margin laba kotor ke 15,1 persen seiring kenaikan pendapatan dan penurunan beban subkontraktor melalui peningkatan porsi pengerjaan in-house.
Ke depan, kinerja DEWA diperkirakan tetap tumbuh dengan proyeksi core profit mencapai Rp910 miliar pada 2026 atau naik 59 persen secara tahunan.
Peningkatan ini ditopang percepatan pengerjaan in-house hingga 100 persen dan tambahan volume kontrak sekitar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha dari sister company DEWA, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang mulai diambil alih secara bertahap pada April 2026.