IDXChannel – Sejumlah saham Grup Bakrie, yang sebagian juga terafiliasi dengan Grup Salim, menguat pada Jumat (27/3/2026) dan berusaha melawan arus pelemahan pasar yang masih terasa, seiring munculnya sentimen positif dari unit-unit bisnisnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 10.32 WIB, saham emiten minyak dan gas (migas) PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melesat 9,06 persen ke Rp1.565 per saham, didorong lonjakan harga minyak dunia di tengah memanasnya perang Iran serta katalis terbaru dari perseroan.
Berita terbaru, ENRG menemukan cadangan minyak baru melalui anak usahanya, PT EMP Tunas Energi dari sumur eksplorasi Cenako-1 Twin di blok South CPP, Riau, Sumatera.
Manajemen ENRG menyebut, pengeboran sumur tersebut mencapai kedalaman 2.475 kaki atau sekitar 754 meter.
Berdasarkan hasil uji sumur (well testing) dan analisis subsurface per 17 Maret 2026, struktur Cenako diperkirakan memiliki kandungan minyak di tempat (original oil in place) sebesar sekitar 15,6 juta barel.
Perseroan akan melanjutkan kegiatan eksplorasi untuk mengonversi temuan tersebut menjadi cadangan yang siap dikembangkan secara komersial.
Laba DEWA Melesat 78 Kali
Saham kontraktor tambang PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga naik 3,18 persen ke Rp454 per saham, seiring laporan keuangan perseroan yang mengejutkan pasar setelah membukukan lonjakan laba bersih signifikan pada 2025.
DEWA mencatat lonjakan laba bersih sepanjang 2025 menjadi Rp4,3 triliun, melonjak tajam dari Rp55 miliar pada 2024 dan jauh melampaui ekspektasi konsensus.
Pada kuartal IV-2025 saja, laba bersih mencapai Rp4,1 triliun, naik signifikan dibandingkan Rp71 miliar pada kuartal III-2025 dan Rp17 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Investment Analyst Stockbit Everson Sugianto, Jumat (27/3), lonjakan laba ini terutama ditopang pengakuan negative goodwill sebesar Rp4,5 triliun dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR).
Nilai tersebut berasal dari selisih nilai wajar aset GMR sekitar Rp6,7 triliun dengan biaya perolehan Rp844 miliar, sehingga memberikan keuntungan akuntansi yang besar dan menutup kerugian dari penghapusan piutang, persediaan, penjualan aset tetap, serta hilangnya kendali atas entitas anak PT Dire Pratama.
Meski bersifat satu kali (one-off), kinerja operasional DEWA tetap menunjukkan perbaikan.
Core profit sepanjang 2025 naik menjadi Rp573 miliar dari Rp65 miliar pada 2024, didorong ekspansi margin laba kotor ke 15,1 persen seiring kenaikan pendapatan dan penurunan beban subkontraktor melalui peningkatan porsi pengerjaan in-house.
Ke depan, kinerja DEWA diperkirakan tetap tumbuh dengan proyeksi core profit mencapai Rp910 miliar pada 2026 atau naik 59 persen secara tahunan.
Peningkatan ini ditopang percepatan pengerjaan in-house hingga 100 persen dan tambahan volume kontrak sekitar 50 juta bcm dari proyek non-Bengalon milik PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha dari sister company DEWA, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang mulai diambil alih secara bertahap pada April 2026.
Selain itu, DEWA juga membukukan manfaat pajak penghasilan bersih Rp93 miliar pada 2025, berbalik dari beban pajak pada tahun sebelumnya, terutama akibat pencatatan pajak tangguhan.
Saham BUMI juga naik tipis 0,93 persen ke Rp216 per unit dan BRMS terkerek 0,70 persen. Sementara, saham Grup Bakrie lainnya cenderung memerah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,88 persen ke 7.101, melanjutkan penurunan tajam sehari sebelumnya dan meneguhkan bear market sejak pengumuman MSCI dan dimulainya perang di Iran.
Penurunan lebih dari 20 persen dari posisi puncak umumnya dikategorikan sebagai bear market, yakni kondisi ketika pasar saham berada dalam tren turun berkepanjangan akibat tekanan sentimen negatif, arus keluar dana asing, serta meningkatnya ketidakpastian global. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.