Dari penjualan tersebut, laba kotor tercatat Rp8,35 triliun dengan margin laba kotor 10,9 persen. Pada kuartal I-2026, penjualan bersih ERAA naik 41,1 persen YoY menjadi Rp22,4 triliun.
Di sisi anak usaha, ERAL membukukan penjualan Rp6,49 triliun sepanjang 2025, tumbuh 34,1 persen YoY, dengan Same Store Sales Growth (SSSG) 20,1 persen. Hendra menilai SSSG di level itu menunjukkan toko yang sudah beroperasi pun masih mampu meningkatkan penjualan, indikator yang lebih berkualitas dibanding pertumbuhan dari pembukaan gerai baru.
"Artinya, permintaan konsumen terhadap produk active lifestyle masih kuat dan daya beli di segmen itu relatif terjaga," katanya.
Langkah ERAA menghadirkan XPENG di bisnis kendaraan listrik dan CHAGEE di sektor food and beverage, menurut Hendra, memperlihatkan upaya membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih beragam.
Dia menyebut Erajaya tengah bertransformasi dari sekadar distributor produk teknologi menjadi perusahaan yang membangun ekosistem gaya hidup. Diversifikasi ini dinilai dapat memperpanjang siklus pertumbuhan sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu lini bisnis yang sangat dipengaruhi siklus pergantian produk.