IDXChannel - September kerap menjadi bulan yang penuh tantangan bagi pasar saham Indonesia. Namun, di tengah risiko September Effect, sejumlah saham masih dinilai memiliki prospek menarik untuk dicermati investor.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melalui riset KSI Research Monthly Outlook September 2026 memilih sembilan saham sebagai stock picks untuk bulan ini.
Pilihan tersebut mencakup saham dari sektor komoditas, perbankan, telekomunikasi, infrastruktur, konsumer, hingga otomotif.
Rekomendasi saham tersebut sejalan dengan pandangan Kiwoom bahwa tekanan pada September lebih berpotensi menjadi fase konsolidasi dalam tren re-rating IHSG yang lebih besar, ketimbang menandai perubahan tren pasar secara struktural.
Sebelumnya, Kiwoom memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.300-6.650 sepanjang September 2026.
Secara historis, September memang menjadi salah satu bulan yang kurang bersahabat bagi IHSG, dengan rata-rata return minus 0,94 persen dalam 10 tahun terakhir.
Namun, Kiwoom melihat volatilitas tersebut justru dapat menjadi kesempatan bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang untuk melakukan re-entry pada saham-saham dengan fundamental kuat.
Saham Pilihan
Saham pertama yang menjadi pilihan adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dengan target harga Rp6.300 per saham, atau menyiratkan potensi kenaikan sekitar 43 persen.
Kiwoom menilai prospek INCO didukung oleh tren harga nikel global yang masih solid. Selain itu, rampungnya proyek smelter berteknologi high pressure acid leach (HPAL) di Morowali dan Pomalaa menjadi katalis pertumbuhan perseroan.
Pilihan berikutnya adalah PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dengan target harga Rp4.800, atau potensi kenaikan sekitar 76 persen.
ANTM dinilai memiliki eksposur positif terhadap harga emas, nikel, dan bauksit. Kiwoom juga melihat emas berpotensi menjadi salah satu motor pertumbuhan laba sekaligus memberikan daya tarik melalui potensi dividend yield.
Sementara itu, dari sektor properti, Kiwoom memilih PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dengan target harga Rp9.925, yang memberikan potensi kenaikan sekitar 65 persen.
Prospek PANI ditopang oleh pengembangan NICE convention center, ekspansi landbank premium, serta target pembukaan hotel Hilton pada 2027.
Dari sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masuk dalam daftar dengan target harga Rp3.600, atau potensi kenaikan sekitar 29 persen.
Kiwoom menyoroti program buyback senilai Rp500 miliar yang dinilai menjadi sinyal valuasi perseroan masih menarik. Di sisi fundamental, posisi BBRI di segmen UMKM serta kinerja dana murah (CASA) menjadi salah satu faktor pendukung.
Saham lain yang masuk daftar adalah PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dengan target harga Rp705, atau potensi kenaikan sekitar 44 persen.
Kiwoom melihat aksi merger antara PST dan UMT berpotensi memperluas bisnis internet service provider (ISP), Internet of Things (IoT), dan infrastruktur digital. Perseroan juga memiliki katalis berupa program buyback saham senilai Rp2,98 triliun.
Dari sektor infrastruktur jalan tol, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) memiliki target harga Rp3.850, atau potensi kenaikan sekitar 41 persen.
Valuasi JSMR dinilai masih berada di bawah rata-rata historis berdasarkan indikator PBV dan EV/EBITDA, sementara fundamental perseroan dinilai relatif defensif.
Untuk sektor peternakan, Kiwoom memilih PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dengan target harga Rp3.140, atau potensi kenaikan sekitar 60 persen.
Kiwoom melihat perbaikan volume dan margin menjadi katalis bagi JPFA. Pergerakan harga saham yang mulai stabil juga menjadi faktor yang mendukung prospek perseroan.
Sementara dari sektor farmasi dan konsumer kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menjadi pilihan dengan target harga Rp970, yang menyiratkan potensi kenaikan sekitar 24 persen.
Pertumbuhan bisnis distribusi dan produk konsumer kesehatan dinilai dapat menopang kinerja KLBF. Kiwoom juga mencatat valuasi perseroan berada pada sekitar 9,4 kali forward P/E, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis 16 kali.
Terakhir, Kiwoom memasukkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan target harga Rp4.100, atau potensi kenaikan sekitar 26 persen.
Pertumbuhan kredit BBNI diperkirakan tetap solid, sementara net interest margin (NIM) ditargetkan berada di kisaran 3,5-3,8 persen pada 2026. Loan to deposit ratio (LDR) juga dinilai masih berada pada level sehat, sekitar 83,5 persen.
Bukan Sekadar Bertahan di September
Kesembilan saham tersebut menunjukkan bahwa strategi Kiwoom menghadapi September bukan semata-mata menghindari volatilitas pasar, tetapi memilih saham yang memiliki katalis spesifik di tengah potensi tekanan IHSG.
Hal ini sejalan dengan proyeksi Kiwoom yang masih mempertahankan target IHSG akhir 2026 di 7.250-7.700.
Dengan demikian, September Effect lebih dipandang sebagai potensi periode konsolidasi yang dapat membuka peluang akumulasi pada saham-saham dengan fundamental dan katalis yang kuat, terutama apabila tekanan pasar kembali mendorong valuasi ke level yang lebih menarik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.