Harga liquefied natural gas (LNG) yang melonjak akibat blokade Selat Hormuz juga mendorong sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara. China, India, Jepang, Korea Selatan, hingga sebagian negara Eropa berpotensi meningkatkan konsumsi batu bara sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Di sisi pasokan, ekspor thermal coal Indonesia justru menunjukkan penurunan.
BRI Danareksa mencatat ekspor thermal coal Indonesia turun 23 persen secara tahunan pada Agustus 2026, menjadi level terendah untuk periode Agustus dalam lima tahun terakhir.
Penurunan tersebut dipengaruhi kuota produksi, ketidakpastian kebijakan, serta gangguan pengiriman.
“Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga batu bara tetap tinggi di tengah keterbatasan supply dan meningkatnya kebutuhan energi,” tulis BRI Danareksa. (Aldo Fernando)