sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga CPO Rebound usai Turun 4 Hari Beruntun

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
24/09/2026 15:43 WIB
Harga minyak sawit mentah (CPO) rebound pada perdagangan Kamis (24/9/2026), menghentikan tren penurunan dalam empat hari berturut-turut.
Harga CPO Rebound usai Turun 4 Hari Beruntun. (Foto: Magnific)
Harga CPO Rebound usai Turun 4 Hari Beruntun. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) rebound pada perdagangan Kamis (24/9/2026), menghentikan tren penurunan dalam empat hari berturut-turut.

Penguatan harga minyak nabati di Dalian menjadi penopang pasar CPO di tengah tekanan dari pelemahan harga minyak mentah dan minyak kedelai Chicago.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,55 persen menjadi 4.793 ringgit per metrik ton pada pukul 15.16 WIB.

Trader proprietary di perusahaan perdagangan berbasis Kuala Lumpur Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, mengatakan perdagangan CPO masih berlangsung hati-hati karena sentimen pasar tetap tertekan oleh pelemahan harga minyak mentah dan pasar minyak nabati secara umum.

"Namun, penguatan kontrak berjangka di Dalian memberikan dukungan terhadap harga CPO," kata David Ng, seperti dikutip Reuters.

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,41 persen, sedangkan kontrak minyak sawit bertambah 0,59 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melemah 0,43 persen.

Pergerakan harga CPO turut dipengaruhi harga minyak nabati pesaingnya karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa di pasar minyak nabati global.

Di sisi lain, harga minyak mentah kembali melemah setelah melonjak sekitar 4 persen pada sesi sebelumnya.

Penurunan terjadi setelah Iran menyatakan masih terbuka terhadap jalur diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS), meski kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan yang jauh mengenai cara mengakhiri konflik tersebut.

Pelemahan harga minyak mentah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel karena keekonomian penggunaan minyak sawit sebagai bahan bakar nabati turut dipengaruhi oleh harga energi fosil.

Dari sisi mata uang, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO menguat 0,12 persen terhadap dolar AS. Penguatan ringgit membuat CPO sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Sementara itu, sentimen permintaan dari India turut menjadi perhatian pasar. Pemerintah India pada Rabu (23/9) memangkas bea masuk dasar untuk minyak nabati mentah dan olahan, termasuk minyak sawit, minyak kedelai, dan minyak bunga matahari.

Kebijakan tersebut ditempuh pemerintah India untuk menekan harga pangan menjelang puncak musim perayaan di negara tersebut.

India merupakan salah satu konsumen minyak nabati terbesar dunia, sehingga perubahan kebijakan impor berpotensi memengaruhi dinamika permintaan CPO global. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement