IDXChannel - Harga emas naik pada perdagangan Senin (26/10/2026), rebound dari level terendah lebih dari tiga bulan pada hari sebelumnya.
Penguatan terjadi seiring penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran terhadap inflasi, sementara pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan ini.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,54 persen menjadi USD4.017,19 per troy ons. Pada Jumat (23/10) pekan lalu, harga emas sempat menyentuh USD3.975 per troy ons, level terendah sejak 20 Juli.
"Penurunan harga minyak mentah membantu emas, sementara aksi bargain hunting juga mulai masuk," kata Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, seperti dikutip Reuters.
Menurut dia, perdagangan emas kemungkinan relatif sepi dan harga akan bertahan di sekitar level USD4.000 menjelang pengumuman The Fed.
Harga minyak turun setelah melonjak pada pekan lalu, tetapi masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan. Pergerakan tersebut terjadi di tengah harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi. Namun, pasar masih mewaspadai potensi gangguan pasokan baru yang dapat kembali meningkatkan tekanan harga.
The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu (28/10). Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga setelah kenaikan pada September.
Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember berada di level 80 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.
Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Para pejabat The Fed sebelumnya telah memberi sinyal tidak menaikkan kembali suku bunga acuan AS pada pekan ini.
Namun, kekhawatiran terhadap inflasi masih menjadi perhatian utama sehingga investor menilai jeda kenaikan suku bunga tersebut belum tentu berlangsung lama.
Selain keputusan The Fed, pasar juga menanti data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan dirilis Kamis (29/10).
Data tersebut merupakan indikator inflasi pilihan The Fed dan dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai arah suku bunga.
Perhatian investor juga mulai tertuju pada pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.
Pasar mencermati implikasi hasil pemilu terhadap kebijakan fiskal dan sentimen pasar secara luas.
"Kami akan lebih memperhatikan bukan hasil pemilunya, melainkan implikasinya terhadap kebijakan fiskal, tarif, belanja terkait geopolitik, dan ketidakpastian kebijakan. Faktor-faktor tersebut dapat berdampak pada imbal hasil US Treasury, dolar AS, dan harga emas," tulis analis OCBC dalam catatannya. (Aldo Fernando)