sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Bangkit 2 Persen, Insiden Kapal di Oman Picu Kekhawatiran Selat Hormuz

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
26/06/2026 06:52 WIB
Harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Kamis setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di dekat Oman.
Harga Minyak Bangkit 2 Persen, Insiden Kapal di Oman Picu Kekhawatiran Selat Hormuz. (Foto: Magnific)
Harga Minyak Bangkit 2 Persen, Insiden Kapal di Oman Picu Kekhawatiran Selat Hormuz. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Kamis setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di dekat Oman.

Insiden tersebut membuat upaya evakuasi kapal-kapal dari jalur pelayaran strategis Selat Hormuz terhenti dan kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global.

Aliran minyak dan gas telah terganggu sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.

Namun, kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang sebelumnya memungkinkan lalu lintas kapal kembali melintasi selat penting tersebut, yang sempat diblokade secara efektif oleh Iran.

Melansir dari Reuters, Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) pada Kamis menghentikan sementara upaya mengawal kapal dan awak kapal melewati Selat Hormuz setelah kapal kargo melaporkan dugaan serangan.

Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan awal untuk mengakhiri perang Iran tidak akan bertahan.

Setelah pasar minyak ditutup pada Kamis, dua pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Iran menembaki kapal kargo tersebut saat kapal itu berupaya melintasi selat.

Sementara itu, otoritas Iran menyatakan keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi Selat Hormuz tidak dapat dijamin.

Harga minyak mentah Brent naik 2,1 persen menjadi menetap di USD75,26 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,3 persen menjadi USD71,92 per barel.

Pada Rabu, kedua acuan harga minyak tersebut ditutup pada level terendah sejak 27 Februari, sehari sebelum perang dimulai.

Saat itu, pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak konflik pecah.

Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.

"Persediaan di tangki penyimpanan di seluruh kawasan Teluk berada sekitar 50 persen hingga 60 persen penuh. Jika lalu lintas kapal tanker melalui selat tidak segera pulih, produsen harus mengurangi produksi, dan pemulihan penuh dapat tertunda hingga tahun depan," kata analis dari konsultan energi Rystad Energy dalam laporan mereka.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada sekutu-sekutu di kawasan Teluk pada Kamis bahwa setiap kesepakatan dengan Iran akan mempertimbangkan kepentingan mereka.

Pernyataan itu disampaikan saat Rubio mengakhiri kunjungan ke Timur Tengah yang bertujuan mendapatkan dukungan mitra regional yang masih memiliki kekhawatiran terhadap kesepakatan awal tersebut.

AS dan enam anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyatakan perdamaian yang berkelanjutan harus mencakup penyelesaian terkait rudal balistik Iran, drone, serta dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi.

Mereka juga mendukung pelayaran yang bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan di Selat Hormuz tanpa pungutan, biaya, atau upaya untuk mengendalikan jalur tersebut.

"Jika Iran mengancam atau memblokir kapal-kapal di selat itu, maka kita akan menghadapi masalah," ujar Rubio.

Sebelumnya, ia mengatakan kepada para menteri bahwa tidak ada negara di dunia yang memiliki hak untuk mengenakan biaya atas penggunaan jalur perairan internasional dan bahwa pungutan terhadap pelayaran tidak akan pernah menjadi bagian dari kesepakatan apa pun.

Namun, laporan Wall Street Journal menyebutkan Iran memperkirakan pungutan untuk layanan keamanan, keselamatan, dan lingkungan di selat tersebut dapat menghasilkan USD40 miliar per tahun bagi negara-negara yang terlibat.

Kontrak berjangka bensin AS melonjak sekitar 5 persen, sementara harga diesel AS naik sekitar 4 persen.

Analis juga menyebut pembelian teknikal dan aksi penutupan posisi jual (short covering) turut mendorong kenaikan harga.

Konsultan energi Gelber & Associates mengatakan dalam catatan risetnya bahwa pasar minyak sebelumnya telah mengalami tekanan jual dan berada dalam kondisi semakin jenuh jual (oversold).

Meski harga minyak menguat pada Kamis, kedua acuan minyak tersebut masih berada dalam wilayah teknikal oversold selama lebih dari sepekan. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement