Menurut sejumlah laporan, pembicaraan mencakup serangan terhadap Arab Saudi oleh kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung Iran, peluang perundingan AS-Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Upaya diplomatik tersebut membantu meredakan kekhawatiran dalam jangka pendek mengenai eskalasi militer lebih lanjut. Namun, investor masih berhati-hati karena belum ada kepastian apakah langkah tersebut akan menghasilkan kesepakatan damai yang bertahan lama.
Presiden AS Donald Trump masih membuka kemungkinan dilakukannya aksi militer lanjutan terhadap Iran. Di sisi lain, Teheran menyatakan negosiasi dengan Washington memerlukan sejumlah konsesi, termasuk penghentian blokade AS dan pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Analis Capital Economics menilai, tekanan ekonomi akibat blokade AS menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi posisi Iran dalam perundingan.
“Blokade laut AS yang kini telah berlangsung lebih dari 100 hari menimbulkan tekanan berat terhadap perekonomian Iran, dengan nilai tukar rial merosot dan inflasi mendekati 90 persen secara tahunan,” tulis analis Capital Economics dalam catatan risetnya.