IDXChannel - Harga minyak ditutup lebih rendah setelah sesi perdagangan yang fluktuatif pada Rabu (26/8/2026), seiring investor memantau pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz serta kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih kecil dari perkiraan.
Dilansir dari Reuters, Kamis (27/8/2026), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup turun USD0,74 atau 0,84 persen menjadi USD87,84 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 13 sen atau 0,16 persen menjadi USD82,23 per barel.
Selama sesi perdagangan, kedua harga acuan tersebut sempat jatuh ke level terendah sejak 10 Agustus 2026 di tengah harapan akan peningkatan lalu lintas melalui selat tersebut. Namun, penurunan harga kemudian berkurang setelah data resmi menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat lebih rendah dari perkiraan pada pekan lalu.
Persediaan minyak mentah meningkat sebesar 95 ribu barel menjadi 428,9 juta barel pada pekan yang berakhir 21 Agustus 2026, menurut data Energy Information Administration (EIA). Angka ini berada di bawah ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 597 ribu barel.
Iran dan Oman Susun Detail Kesepakatan
Para analis mengatakan, pembicaraan antara Iran dan Oman telah mengubah sentimen pasar.
"Pasar telah beralih dari memperhitungkan kemungkinan besar terjadinya gangguan berkepanjangan dan eskalasi kembali, menuju skenario pembukaan kembali sebagian jalur, pengaturan pelayaran melalui negosiasi, dan risiko konfrontasi militer baru yang lebih rendah," ujar Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen.
"Kesepakatan kredibel yang dapat memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz dengan cepat dapat menghilangkan satu lapisan premi risiko geopolitik," kata dia.
Iran dan Oman sedang menyusun detail kesepakatan mengenai selat tersebut, ungkap seorang sumber senior Iran pada Rabu. Hal ini menyusul pernyataan Garda Revolusi Iran bahwa kedua negara telah menyepakati pembagian akses jalur perairan tersebut beserta pendapatan yang dihasilkannya.
Sebelum serangan udara AS-Israel memicu perang melawan Iran pada akhir Februari, Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Hanya lima kapal komoditas yang melintasi jalur perairan tersebut pada Selasa—berdasarkan data awal dari pelacak kapal Kpler-turun dari rata-rata 10 hari sebesar 15 kapal dan jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Gangguan pasokan energi akibat perang Rusia di Ukraina tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kilang minyak terbesar keempat dan produsen bensin terbesar kedua di Rusia, NORSI, menghentikan pengolahan minyak mentah pada Rabu setelah serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina, menurut keterangan tiga sumber industri.
Rusia sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan serangan rudal balistik ke Kyiv, termasuk target-target di pusat kota, serta infrastruktur di wilayah lain Ukraina, setelah menyimpulkan bahwa upaya negosiasi kesepakatan damai telah menemui jalan buntu; demikian dilaporkan Bloomberg News pada Rabu.
Seorang senator AS yang mengusulkan rancangan undang-undang (RUU) mengenai sanksi luas terhadap Rusia menyatakan pada Rabu bahwa dia berharap RUU tersebut akan disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bulan depan dan menjadi pukulan telak bagi upaya Presiden Vladimir Putin dalam mendanai perangnya di Ukraina.
(Dhera Arizona)