sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Harga Minyak Melesat 27 Persen ke Atas USD100, Simak Gerak Saham ELSA-MEDC Cs

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
09/03/2026 10:17 WIB
Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melesat hingga sekitar 27 persen dan menembus level USD100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi.
Harga Minyak Melesat 27 Persen ke Atas USD100, Simak Gerak Saham ELSA-MEDC Cs. (Foto: Freepik)
Harga Minyak Melesat 27 Persen ke Atas USD100, Simak Gerak Saham ELSA-MEDC Cs. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melesat hingga sekitar 27 persen dan menembus level USD100 per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi, sejumlah saham sektor minyak dan gas (migas) di bursa domestik bergerak menguat.

Kenaikan tertinggi dibukukan oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 3,40 persen ke Rp1.825 per unit per pukul 09.59 WIB.

Penguatan berikutnya dicatat PT Elnusa Tbk (ELSA) yang meningkat 2,94 persen ke Rp875 per unit, disusul PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang naik 2,24 persen ke Rp274 per saham.

Selanjutnya, saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menguat 1,72 persen ke Rp236, sementara PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 0,82 persen ke Rp1.840 per saham.

Kemudian, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) turut mencatat kenaikan lebih terbatas sebesar 0,80 persen.

Di sisi lain, tidak semua saham migas bergerak searah dengan lonjakan harga minyak. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) justru turun 4,51 persen ke Rp3.600, sementara PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) melemah 4,5 persen ke Rp5.300 per saham.

Harga minyak dunia melonjak menembus USD100 per barel pada awal perdagangan sesi Asia, Senin (9/3/2026) seiring konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi di kawasan tersebut.

Kontrak berjangka (futures) minyak jenis Brent melesat 23 persen menjadi USD114,36 per barel, kenaikan harian terbesar setidaknya sejak 1988, setelah sebelumnya sudah melonjak 28 persen sepanjang pekan lalu.

Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (AS) melonjak tajam 27 persen ke level USD115,11 per barel, memicu kekhawatiran lonjakan cepat harga bensin.

Di tengah konflik dengan AS dan Israel, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi.

Langkah ini memberi sinyal bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali kuat di Teheran pada pekan pertama konflik tersebut.

Penunjukan itu diperkirakan tidak disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyebut putra Khamenei tersebut sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.

Dengan belum terlihat tanda-tanda meredanya permusuhan di Timur Tengah dan kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, investor bersiap menghadapi periode panjang biaya energi yang tinggi.

Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman menilai perekonomian global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

“Perekonomian global tetap bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam Timur Tengah melalui Selat Hormuz,” ujarnya, dikutip Reuters.

Menurut Kasman, skenario jangka pendek menunjukkan harga minyak dapat melonjak mendekati USD120 per barel sebelum kemudian mereda jika konflik segera mereda.

“Namun tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan pada level tinggi sekitar USD80 per barel hingga pertengahan tahun,” katanya.

Kasman menambahkan, kondisi tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6 persen secara tahunan pada paruh pertama tahun ini, sekaligus mendorong kenaikan harga konsumen sekitar 1 persen.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang lebih luas dan berkepanjangan dapat mendorong harga minyak jauh melampaui USD120 per barel dan meningkatkan risiko resesi global. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement