Tekanan juga tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp1,1 triliun pada sesi pertama.
Hingga sesi II, pergerakan IHSG belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan.
Dari eksternal, pergerakan IHSG turut dibayangi eskalasi konflik Arab Saudi-Houthi yang mendorong harga minyak mentah Brent ke sekitar USD106,65 per barel.
Kenaikan harga energi berisiko memperbesar tekanan inflasi global dan membebani aset berisiko.
Pelaku pasar juga menantikan rilis inflasi Amerika Serikat (AS) periode September yang dijadwalkan pada Rabu pukul 19.30 WIB.
Konsensus memperkirakan inflasi utama mencapai 3,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 0,6 persen secara bulanan (month-on-month/mom). Sementara itu, inflasi inti diperkirakan sebesar 2,5 persen secara tahunan dan 0,2 persen secara bulanan.