IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lanjut menguat pada perdagangan Selasa (6/10/2026), setelah beberapa hari sebelumnya sempat tertekan selama enam hari beruntun.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.57 WIB, IHSG menguat 0,68 persen ke level 6.160.
Penguatan tersebut melanjutkan upaya pemulihan IHSG dalam tiga hari perdagangan terakhir.
Secara teknikal, indeks masih memiliki peluang melanjutkan rebound, meski sejumlah level resistance menjadi tantangan yang perlu ditembus.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset Selasa (6/10/2026) menyebut IHSG kembali bertahan di atas support Fibonacci 6.019. Sementara itu, moving average (MA) 20 hari di level 6.319 masih menjadi resistance dinamis.
Area resistance IHSG berada di kisaran 6.185-6.240. Jika mampu menembus area tersebut, kata BRI Danareksa, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju 6.319.
Di sisi lain, level support berada di 6.019 dan berikutnya 5.854.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih menunjukkan tren bearish.
Namun, histogram yang mulai menyempit mengindikasikan tekanan jual mulai mereda sehingga peluang technical rebound masih terbuka.
Dari sisi historis, Oktober juga memberikan katalis bagi pergerakan IHSG. Dalam enam tahun terakhir, IHSG tercatat menguat pada lima periode Oktober dengan rata-rata kenaikan 1,69 persen.
Peluang tersebut bertepatan dengan dimulainya musim publikasi laporan keuangan kuartal III-2026.
Sejumlah bank besar diperkirakan mulai merilis kinerja pada 20-30 Oktober, sehingga perkembangan kinerja emiten berpotensi menjadi perhatian investor sepanjang bulan ini.
Dari pasar global, ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) yang lebih dovish meningkat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) berada jauh di bawah ekspektasi.
Investor selanjutnya akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 7 Oktober.
Meski demikian, risiko dari pasar global masih perlu diperhatikan. Imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun masih berada di sekitar 5,3 persen, level yang berpotensi menekan aset pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sentimen positif dari Wall Street, dengan Nasdaq yang kembali mencetak rekor baru, menjadi penyeimbang di tengah tingginya yield obligasi AS.
Selain faktor global dan domestik, pasar juga akan mencermati perkembangan indeks MSCI pada akhir Oktober. MSCI dijadwalkan memperbarui status pembekuan (freeze) terhadap Indonesia pada periode tersebut.
CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) dalam riset 25 September 2026 memperkirakan status pembekuan tersebut kemungkinan diperpanjang.
Menurut CGSI, perpanjangan freeze berpotensi menjadi peristiwa netral bagi pasar dengan risiko negatif yang relatif kecil. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.