sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Sederet Saham Big Cap Jadi Beban

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
03/11/2026 10:45 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026) pagi, setelah menguat sehari sebelumnya.
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Sederet Saham Big Cap Jadi Beban. (Foto: MNC Media)
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen, Sederet Saham Big Cap Jadi Beban. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026) pagi, setelah menguat sehari sebelumnya.

Tekanan terhadap pasar masih berlanjut di tengah kekhawatiran investor atas pengumuman MSCI pada pertengahan Oktober lalu terkait potensi perubahan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.25 WIB, IHSG turun 1,23 persen ke level 5.034,13. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp3,17 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 8,30 miliar saham.

Tekanan pasar terlihat dari pergerakan mayoritas saham. Sebanyak 507 saham melemah, sementara 179 saham menguat dan 277 saham lainnya bergerak stagnan.

Dalam sepekan terakhir, IHSG telah terkoreksi 6,31 persen. Sementara secara bulanan, indeks masih tertekan hingga 16,66 persen.

Asing pun membukukan jual bersih (net sell) Rp2,52 triliun di pasar reguler dalam sepekan terakhir. Dalam sebulan, angka net sell mencapai Rp19,32 triliun.

Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar menjadi pemberat utama indeks.

Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) turun 2,55 persen, PT Astra International Tbk (ASII) melemah 2,26 persen, dan PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) terkoreksi 2,66 persen.

Tekanan juga datang dari saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 1,06 persen serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang merosot 5,80 persen.

Memasuki perdagangan November, BRI Danareksa Sekuritas menilai pelaku pasar mulai mencermati implementasi kebijakan BEI yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks.

Saham-saham tersebut sebelumnya memiliki bobot gabungan sekitar 18 persen terhadap IHSG.

Dari sisi makroekonomi, inflasi Indonesia pada Oktober melandai menjadi 3,23 persen secara tahunan (year on year/YoY).

 Sementara itu, neraca perdagangan September masih mencatat surplus US$3,36 miliar, meski lebih rendah dibandingkan surplus US$3,55 miliar pada Agustus.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada pemilu sela Amerika Serikat (AS) dan rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada malam ini.

Dari dalam negeri, pasar juga menantikan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 pada 5 November, dengan konsensus pertumbuhan sebesar 5,0 persen YoY.

Selain itu, data tenaga kerja AS atau nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada 6 November turut menjadi salah satu katalis yang dicermati pasar.

Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas mencatat indikator Relative Strength Index (RSI) IHSG berada di level 29,67 atau sudah memasuki area oversold.

Meski demikian, posisi indeks yang masih jauh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) di level 6.846 menunjukkan tren utama pasar masih berada dalam tekanan bearish.

Untuk perdagangan jangka pendek, area 5.027-4.962 menjadi rentang support yang perlu dipertahankan. Jika mampu bertahan di atas area tersebut, peluang rebound masih terbuka. Namun, IHSG perlu menembus resistance 5.170 untuk memperkuat sinyal pemulihan.

Di pasar valuta asing, rupiah turut bergerak melemah.

Hingga pukul 10.20 WIB, mata uang Garuda terkoreksi 0,06 persen ke level Rp18.146 per dolar AS. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement