Tekanan terhadap IHSG juga datang dari sentimen global. Risk-off meningkat seiring harga minyak mentah Brent kembali melonjak ke kisaran USD107-USD108 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur pasokan energi.
Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun mendekati 5 persen.
Di pasar valuta asing, rupiah juga berada di sekitar Rp17.600 per USD, sehingga tekanan terhadap aset emerging market semakin besar.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga semakin hawkish setelah inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus tercatat lebih tinggi dari perkiraan.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September kini mencapai sekitar 86-87 persen.