IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan sepanjang perdagangan Senin (14/9/2026). Hingga sekitar pukul 14.30 WIB, IHSG melemah 2,31 persen ke level 6.390.
MenurutBRI Danareksa Sekuritas, tekanan tersebut membuat IHSG menembus pola rising wedge sekaligus kembali berada di bawah moving average (MA) 20 di level 6.538. Kondisi ini mengindikasikan pelemahan momentum dalam jangka pendek.
BRI Danareksa menyebut area 6.390-6.220 sebagai support penting yang perlu diperhatikan investor. Jika area tersebut mampu bertahan, IHSG masih memiliki peluang mengalami technical rebound.
Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut dan area support tersebut ditembus, risiko koreksi IHSG dapat semakin dalam.
Dari indikator momentum, MACD menunjukkan bearish crossover dengan histogram yang kembali berada di zona negatif. Sinyal tersebut turut mengonfirmasi meningkatnya tekanan jual di pasar saham.
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari sentimen global. Risk-off meningkat seiring harga minyak mentah Brent kembali melonjak ke kisaran USD107-USD108 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur pasokan energi.
Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun mendekati 5 persen.
Di pasar valuta asing, rupiah juga berada di sekitar Rp17.600 per USD, sehingga tekanan terhadap aset emerging market semakin besar.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga semakin hawkish setelah inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus tercatat lebih tinggi dari perkiraan.
Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September kini mencapai sekitar 86-87 persen.
Dengan demikian, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga panduan kebijakan The Fed terkait kemungkinan kenaikan lanjutan.
Sebelumnya, MNC Sekuritas juga menilai tekanan terhadap pasar saham tidak terlepas dari kembali menguatnya harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan terhadap Arab Saudi dan sebuah kapal di kawasan Teluk kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
MNC Sekuritas menyebut probabilitas kenaikan fed funds rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen kini mencapai 86,7 persen. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.