Dari sisi eksternal, IMF memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026, lebih dalam dibandingkan proyeksi April 2026 sebesar 1,1 persen dari PDB. Pelebaran tersebut dipengaruhi lonjakan impor minyak dan gas (migas) di tengah harga minyak yang masih tinggi.
Proyeksi IMF itu juga lebih pesimistis dibandingkan perkiraan Bank Indonesia (BI), yang memproyeksikan defisit transaksi berjalan pada 2026 berada di kisaran 0,5-1,3 persen dari PDB.
Sementara dari sisi fiskal, risiko pelebaran defisit anggaran menjadi salah satu hal yang perlu dicermati investor di tengah kebijakan pemerintah untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Kombinasi tekanan fiskal dan eksternal tersebut dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.
Di luar proyeksi pertumbuhan dan defisit eksternal, IMF turut merevisi naik perkiraan inflasi Indonesia pada 2026 menjadi 3,3 persen, dari estimasi sebelumnya sebesar 3 persen. Revisi ini sejalan dengan kenaikan harga energi dan pangan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Stockbit menilai, investor juga perlu mencermati perkembangan harga minyak dunia serta rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September 2026. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), dan pada akhirnya kebijakan moneter BI.
(DESI ANGRIANI)