IDXChannel – Indeks saham Korea Selatan merosot lebih dari 7 persen pada Selasa (3/3/2026) dan menuju sesi terburuk dalam 19 bulan terakhir.
Penurunan tajam ini terjadi seiring meluasnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang mendorong investor asing melakukan aksi ambil untung atas reli setahun terakhir.
Indeks acuan KOSPI anjlok 7,24 persen ke level 5.791,91. Pelemahan berlanjut meski otoritas bursa sempat mengaktifkan mekanisme sidecar untuk membatasi penurunan tajam pada awal sesi.
Dengan ini, indeks tersebut mencatat penurunan harian terbesar sejak 5 Agustus 2024. Saat itu, KOSPI ditutup ambles 8,77 persen.
Melansir dari Reuters, setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat pekan ini.
Israel menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran melanjutkan serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
“KOSPI kembali melemah akibat kerugian yang baru sepenuhnya diperhitungkan setelah penutupan pasar sebelumnya, serta tekanan ambil untung oleh investor asing setelah lonjakan indeks baru-baru ini,” kata analis Daishin Securities Lee Kyoung-min.
Penurunan KOSPI jauh lebih tajam dibanding pasar Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 Jepang dan Taiwan Capitalization Weighted Stock Index masing-masing turun lebih dari 2 persen. Pasar domestik Korea Selatan tutup pada Senin karena hari libur nasional.
Sepanjang hari, otoritas kementerian keuangan, bank sentral, dan regulator menyatakan terus memantau pasar keuangan dan siap mengambil langkah stabilisasi jika diperlukan.
Investor asing memperpanjang aksi jual menjadi sembilan sesi beruntun dengan melepas saham lokal senilai 5 triliun won Korea (USD3,41 miliar) pada Selasa, setelah mencatat rekor penjualan 7,1 triliun won pada sesi sebelumnya.
Sebagian besar saham berkapitalisasi besar tertekan, termasuk produsen chip dan otomotif yang sebelumnya mencetak reli bersejarah didorong optimisme kecerdasan buatan.
Saham Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing turun lebih dari 8 persen, sementara Hyundai Motor merosot lebih dari 10 persen.
Di sektor lain, saham kilang minyak naik mengikuti lonjakan harga minyak, perusahaan pelayaran menguat seiring kenaikan tarif angkut, dan saham pertahanan turut terkerek. Sebaliknya, maskapai penerbangan melemah.
Penurunan Selasa ini terjadi setelah KOSPI melonjak 20 persen pada Februari dan 24 persen pada Januari, menyusul reli berbasis AI tahun lalu sebesar 76 persen, terbesar sejak 1999.
Pelemahan juga muncul meski serangkaian data menunjukkan ledakan AI yang masih berlanjut.
Aktivitas pabrik Korea Selatan berekspansi untuk bulan ketiga berturut-turut, ditopang lonjakan produksi dan ekspor yang melampaui ekspektasi pasar berkat peningkatan penjualan chip.
Di tengah sentimen risk-off global, nilai tukar won melemah ke level terendah hampir satu bulan di 1.465,6 per dolar AS pada platform penyelesaian domestik, turun 1,75 persen dari penutupan sebelumnya di 1.440,0.
Imbal hasil obligasi pemerintah melonjak seiring kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi.
Yield obligasi tenor tiga tahun yang paling likuid naik 8,9 basis poin menjadi 3,135 persen, sedangkan yield obligasi acuan tenor 10 tahun naik 6,2 basis poin ke 3,509 persen. (Aldo Fernando)