sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Peluang The Fed Kerek Suku Bunga Meningkat

Market news editor Desi Angriani
16/10/2026 09:38 WIB
Indeks harga konsumen AS pada September 2026 naik 3,7 persen secara tahunan.
Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Peluang The Fed Kerek Suku Bunga Meningkat (Foto: dok Getty Images)
Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Peluang The Fed Kerek Suku Bunga Meningkat (Foto: dok Getty Images)

IDXChannel - Inflasi Amerika Serikat (AS) yang melampaui ekspektasi pasar meningkatkan peluang Federal Reserve (The Fed) dalam mengerek suku bunganya pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS) pada Rabu (14/10/2026) melaporkan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) September 2026 naik 3,7 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY), lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,6 persen dan inflasi Agustus 2026 sebesar 3,4 persen.

Secara bulanan atau month-on-month (MoM), CPI meningkat 0,6 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus 2026.

Tekanan inflasi juga terlihat pada inflasi inti atau core CPI yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi. Core CPI September 2026 naik 2,6 persen YoY, melampaui ekspektasi sebesar 2,5 persen dan realisasi Agustus sebesar 2,4 persen.

Sementara itu, secara bulanan core CPI naik 0,3 persen, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,2 persen, meski sama dengan kenaikan pada bulan sebelumnya.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu pendorong utama inflasi. Lebih dari separuh kenaikan CPI bulanan pada September 2026 berasal dari harga bensin yang melonjak 9,1 persen MoM. Secara tahunan, indeks harga energi telah meningkat 20,4 persen.

Data tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi AS masih bertahan, sehingga dapat memengaruhi keputusan suku bunga The Fed pada akhir Oktober.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026 meningkat dari 22 persen sebelum rilis data CPI menjadi 44 persen setelah data tersebut diumumkan. Meski demikian, pasar masih cenderung memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga.

Menurut Stockbit, konsensus pasar masih terbelah mengenai keputusan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026. Ketidakpastian tersebut tercermin dari pergerakan aset global pada Kamis (15/10/2026).

Harga emas tercatat naik sekitar 1 persen secara intraday, sementara DXY turun 0,5 persen dan yield US Treasury tenor 10 tahun merosot 11 bps.

Stockbit mengutip pandangan Molly Brooks, US Rates Strategist di TD Securities, yang menilai peningkatan probabilitas kenaikan suku bunga AS berlawanan dengan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang cenderung dovish dan menginginkan suku bunga ditahan terlebih dahulu. 

Sikap tersebut dimaksudkan untuk memberikan waktu bagi pasar mencerna dampak kenaikan suku bunga sebelumnya.

"Meski IHSG melemah hingga lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (15/10/2026) pelemahan ini tidak begitu terkait dengan perkembangan eksternal, mengingat investor asing justru membukukan foreign inflow Rp566 miliar," tulis Stockbit.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement