Data inflasi tersebut menjadi perhatian investor di tengah kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury yang telah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
Kenaikan yield turut meningkatkan biaya pendanaan dan dipengaruhi kekhawatiran terhadap inflasi energi, kebutuhan penerbitan utang perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sinyal hawkish The Fed, serta meningkatnya beban fiskal AS.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan mengisyaratkan kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan.
Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober sempat meningkat setelah keputusan September, didorong pernyataan hawkish sejumlah pejabat The Fed serta tekanan di pasar obligasi.
Namun, ekspektasi tersebut mulai mereda setelah Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan pada Selasa (29/9/2026) bahwa tidak ada urgensi untuk segera kembali menaikkan suku bunga.