Dari capaian pendapatan tersebut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor komoditas strategis ini mampu menyisihkan laba bersih sebesar Rp3 triliun, tumbuh 16,2 persen, untuk perbandingan periode yang sama.
Sedangkan dalam periode enam bulanan, ANTM berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 6,3 persen menjadi Rp62,7 triliun, dengan laba bersih melonjak hingga 36 persen menjadi Rp6,4 triliun.
"Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh lonjakan pendapatan bisnis nikel serta bauksit dan alumina masing-masing 32,4 persen dan 28,3 persen. Sedangkan untuk komoditas emas tumbuh moderat sebesar 1,4 persen," tulis BRID.
BRIDS menilai, perbaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP), terutama untuk nikel, sukses menjadi katalis lonjakan laba bersih Perseroan.
Sedangkan untuk pemulihan penjualan emas terimbas oleh penurunan harga di pasar dunia. BRIDS mencatat, harga emas triwulan II-2026 turun 9,2 persen secara triwulanan, seiring normalisasi, kendati masih naik 38 persen sepanjang tahun.