IDXChannel - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melaporkan laba bersih sebesar Rp2,47 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu didukung oleh pertumbuhan pada bisnis kawasan industri dan utilitas, serta kinerja yang stabil pada segmen perdagangan dan distribusi.
Sementara itu, pendapatan perseroan mencapai Rp46,02 triliun sepanjang tahun lalu, meningkat 18,82 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp38,72 triliun.
Presiden Direktur AKR Corporindo, Haryanto Adikoesoemo, mengatakan capaian kinerja sepanjang 2025 merupakan hasil dari model bisnis perseroan yang terdiversifikasi. Terutama pada bisnis kawasan industri JIIPE yang tumbuh signifikan, khususnya pada segmen utilitas, yang semakin berkontribusi terhadap pendapatan stabil dan berulang (recurring income).
“Di saat yang sama, segmen usaha Perdagangan dan Distribusi tetap menunjukkan kinerja yang solid meskipun berada di tengah kondisi pasar yang menantang dan volatil,” kata Haryanto dalam keterangan resmi, Rabu (18/3/2026)
Segmen Perdagangan dan Distribusi mencatat laba kotor sebesar Rp3 triliun meskipun menghadapi volatilitas harga komoditas global dan aktivitas pertambangan yang lebih lemah.
Segmen Kawasan Industri mencatat pendapatan sebesar Rp2,74 triliun didorong oleh peningkatan penjualan lahan sebesar 107 persen serta kenaikan pendapatan utilitas sebesar 129 persen seiring dengan peningkatan aktivitas operasional tenant utama (anchor tenants).
Kinerja Segmen: Pertumbuhan didorong oleh seluruh segmen bisnis utama:
- Kawasan Industri: +107 persen YoY
- Utilitas: +129 persen YoY
- Perdagangan dan Distribusi: +16 persen YoY
Untuk ke depannya, Haryanto mengatakan AKR tetap fokus memperluas jaringan Perdagangan dan Distribusi, terutama di wilayah Indonesia Timur. Perseroan juga terus mempercepat penjualan lahan serta pengembangan utilitas di JIIPE.
“Langkah-langkah ini bertujuan untuk memperkuat visibilitas pendapatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan berulang,” kata dia.
Selain itu, perseroan melihat momentum positif pada iklim investasi di Indonesia yang diperkirakan terus mendukung pengembangan JIIPE ke tahap berikutnya.
Sementara itu, pada segmen Perdagangan dan Distribusi, AKR menegaskan dukungan terhadap ketahanan energi nasional dengan secara bertahap memperluas partisipasi dalam inisiatif energi yang lebih bersih, termasuk biodiesel, bahan bakar ritel, serta pengembangan infrastruktur LNG di dalam ekosistem JIIPE.
Profitabilitas dan Neraca
AKR juga mencatat EBITDA mencapai Rp3,67 triliun, didukung oleh peningkatan efisiensi operasional serta pengelolaan biaya yang disiplin. Di sisi lain, rasio net gearing sebesar -0,08x yang menunjukkan kekuatan struktur neraca perseroan.
Sementara itu, Return on Equity (ROE) dan Return on Asset (ROA) masing-masing tercatat sebesar 20 persen dan 7 persen.
Dari sisi neraca keuangan sebagai berikut:
- Total Aset: Rp36,6 triliun
- Ekuitas: Rp15,61 triliun
- Rasio Utang terhadap Ekuitas (DER): 0,3x
- Rasio Net Gearing: -0,08x
- Siklus Konversi Kas (Cash Conversion Cycle): -1 hari, mencerminkan efisiensi yang tinggi dalam pengelolaan modal kerja dan penciptaan arus kas yang sehat
Dukung Ketahanan Energi Nasional dan Transisi Energi
AKR terus mendukung ketahanan energi Indonesia melalui jaringan logistik dan distribusi terintegrasinya, memastikan pasokan energi ke sektor industri dan komersial di seluruh negeri.
Dengan infrastruktur dan jaringan nasional yang luas, AKR menjadi distributor utama produk bahan bakar dan energi, mendukung aktivitas industri dan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. AKR juga terus memperluas jaringan ritel bahan bakar melalui kemitraan dengan bp-AKR, meningkatkan akses ke bahan bakar berkualitas tinggi.
Pengembangan kawasan industri JIIPE semakin memperkuat ekosistem ini dengan memungkinkan distribusi energi yang lebih efisien dan mendukung pertumbuhan layanan utilitas dan infrastruktur. Hal ini juga menciptakan peluang untuk mengembangkan solusi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan dari waktu ke waktu.
AKR terus bekerja sama erat dengan regulator dan pemangku kepentingan untuk memastikan distribusi energi yang efisien dan andal, sambil secara bertahap memperluas partisipasinya dalam inisiatif transisi energi, termasuk biodiesel, bahan bakar yang lebih bersih, dan infrastruktur LNG.
(Febrina Ratna Iskana)