sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Masih Dibayangi Tekanan Global, Rupiah Ditutup Melemah Nyaris Rp18 Ribu

Market news editor Nia Deviyana
29/09/2026 16:03 WIB
Sentimen eksternal masih membayangi pergerakan mata uang domestik.
Masih Dibayangi Tekanan Global, Rupiah Ditutup Melemah Nyaris Rp18 Ribu. Foto: iNews Media Group.
Masih Dibayangi Tekanan Global, Rupiah Ditutup Melemah Nyaris Rp18 Ribu. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Mata uang Garuda turun 3 poin atau 0,02 persen ke Rp17.981 per USD.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen eksternal masih membayangi pergerakan mata uang domestik. 

Para pejabat AS dan Iran berbicara secara terpisah dengan pihak penengah pada Senin sebagai bagian dari upaya baru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan, menurut pejabat dari kedua negara. Pembicaraan lebih lanjut diperkirakan akan berfokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, ungkap seorang pejabat yang mengetahui perihal negosiasi tersebut kepada Reuters.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, yang tetap berada di New York setelah menghadiri Sidang Majelis Umum, mengatakan bahwa Iran berharap menerima tanggapan AS atas proposal gencatan senjata terbarunya serta syarat-syarat Iran untuk memulihkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz, menurut kantor berita pemerintah IRNA.

Para pejabat AS berbicara secara terpisah dengan pihak penengah pada hari Senin, demikian disampaikan Presiden AS Donald Trump kepada para wartawan di Gedung Putih, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan di bulan Oktober, menyusul serangkaian pernyataan bernada hawkish dari para pejabat The Fed pekan lalu,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Para pelaku pasar akan mencermati data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Kamis, serta data Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Selain itu, komentar dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya.

Dari internal, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027 menjadi undang-undang (UU) hari ini. Pengesahan RUU APBN 2027 ini dilakukan pada Pembicaraan Tingkat II pada Rapat Paripurna DPR. Sebelumnya, pada Pembicaraan Tingkat I antara Badan Anggaran (Banggar) DPR dan pemerintah, telah disepakati asumsi ekonomi makro, target indikator kesejahteraan, serta postur APBN 2027.

Di dalamnya, DPR dan pemerintah telah menyepakati di antarannya pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, tingkat inflasi 2,5 persen (YoY), dan nilai tukar rupiah Rp17.500 per USD. Kemudian, dari segi postur APBN, pemerintah dan DPR menyepakati target pendapatan negara Rp3.425,1 triliun, belanja negara Rp4.106,26 triliun dan defisit Rp671,2 triliun atau setara 2,4 persen terhadap PDB.

Target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang disepakati itu dibutuhkan untuk memperbesar ekonomi Indonesia. Salah satu strategi yang digunakan pemerintah adalah memperbesar nilai tambah ekspor dan investasi. Terkait dengan tata kelola ekspor, Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan sejumlah kebijakan seperti ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, kebijakan retensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), serta bursa mineral komoditas.

Sedangkan, target perampingan defisit sebesar 2,4 persen terhadap PDB adalah untuk memastikan kemampuan maksimal APBN untuk menjalankan fungsi anggaran serta memegang prinsip kehati-hatian. Defisit ini dipertahankan meski adanya kenaikan belanja negara sebesar Rp9,1 triliun. Oleh sebab itu, pemerintah dan DPR juga menaikkan target pendapatan negara sebesar Rp9,1 triliun juga melalui dua pilar yakni pendapatan perpajakan sebesar Rp4 triliun serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp5,1 triliun.

Berdasarkan berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.980 - Rp18.030 per USD.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement