IDXChannel - Pemerintah membuka opsi pengetatan moratorium smelter nikel meliputi feronikel, nickel pig iron (NPI), nickel matte, serta mixed hydroxide precipitate (MHP).
Opsi tersebut dapat menjadi katalis bagi harga nikel yang masih tertekan sepanjang 2026. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) per Rabu (7/10/2026) tercatat USD15.735 per ton atau turun sekitar 6 persen secara year to date (ytd).
Penurunan ini lebih dalam dibandingkan emas yang melemah sekitar 5 persen. Sebaliknya, sejumlah logam industri lain justru mencatat kenaikan, seperti aluminium sebesar 4 persen, tembaga 17 persen, dan timah 34 persen.
Sebelumnya, moratorium pembangunan smelter baru telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025. Namun, pemerintah kini mempertimbangkan agar smelter yang telah beroperasi juga tidak berproduksi penuh selama kondisi pasar global masih mengalami oversupply.
Selain itu, arah pengembangan industri nikel nasional dikaji kembali agar kebijakan hilirisasi tidak hanya untuk menambah kapasitas smelter, tetapi juga mendorong pembangunan industri yang menghasilkan produk hilir secara langsung.