sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mulai Pulih, United Tractors (UNTR) Cetak Laba Bersih Rp7,9 Triliun hingga September 2026

Market news editor Rahmat Fiansyah
27/10/2026 08:20 WIB
PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,9 triliun hingga September 2026, turun 31 persen secara tahunan.
PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,9 triliun hingga September 2026, turun 31 persen secara tahunan. (Foto: Ist)
PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,9 triliun hingga September 2026, turun 31 persen secara tahunan. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,9 triliun hingga September 2026, turun 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, kinerja perseroan mulai pulih pada kuartal III-2026 seiring beroperasinya tambang emas Martabe.

Penurunan laba bersih perseroan secara akumulatif disebabkan oleh oleh berkurangnya penjualan emas PT Agincourt Resources serta melemahnya kinerja sejumlah segmen usaha akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional 2026 yang lebih rendah.

Penjualan emas Agincourt turun tajam setelah operasional tambang tersebut sempat dihentikan sementara. Tambang emas Martabe kini telah kembali beroperasi. Secara keseluruhan, penjualan setara emas dari Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya mencapai 54 ribu ons hingga September 2026, jauh lebih rendah dibandingkan 178 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, pendapatan bersih perseroan turun 10 persen menjadi Rp90,3 triliu dari Rp100,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terutama berasal dari segmen alat berat serta pertambangan batu bara termal dan metalurgi, sejalan dengan dampak alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Pendapatan dari sgmen alat berat turun 19 persen menjadi Rp23,6 triliun. Penjualan alat berat Komatsu merosot 17 persen menjadi 3.026 unit, sedangkan penjualan alat berat berukuran besar untuk sektor pertambangan turun 48 persen menjadi 481 unit. Di sisi lain, pendapatan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat naik 2 persen menjadi Rp8,5 triliun.

Pendapatan segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung turun 15 persen menjadi Rp15,9 triliun. Volume penjualan batu bara mencapai 7,1 juta ton, termasuk 2,1 juta ton batu bara metalurgi, atau turun 23 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Sementara itu, pendapatan segmen kontraktor penambangan yang dijalankan PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada naik 11 persen menjadi Rp44,5 triliun, terutama akibat penguatan dolar AS. Namun, volume pemindahan tanah turun 7 persen menjadi 766 juta bank cubic meter (bcm), sedangkan produksi batu bara untuk klien turun 3 persen menjadi 106 juta ton.

Pendapatan dari segmen pertambangan emas dan mineral lainnya turun 53 persen menjadi Rp4,9 triliun, terutama akibat penurunan penjualan emas yang anjlok 70 persen. Adapun di bisnis nikel, PT Stargate Pacific Resources mencatatkan penjualan bijih nikel sebanyak 1,157 juta wet metric ton (wmt).

Hingga September 2026, perseroan juga mencatatkan pos nonberulang (non-recurring items) sebesar Rp3,5 triliun. Pos tersebut terutama berasal dari penurunan nilai investasi di Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) tambang nikel Stargate.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement