IDXChannel – Musim laporan keuangan emiten per kuartal III-2026 (3Q26) masih bergulir.
Meski sejumlah perusahaan telah melaporkan kinerja hingga September 2026, hasil awal menunjukkan pertumbuhan laba belum merata, dengan perbedaan cukup lebar antara sektor maupun perusahaan dalam industri yang sama.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat, Senin (2/11/2026), dari perusahaan yang telah melaporkan kinerja dan masuk dalam cakupan analisisnya, sebanyak 26,3 persen membukukan laba di atas estimasi (beat), 52,6 persen sesuai ekspektasi (in line), sedangkan 21,1 persen berada di bawah perkiraan (miss).
Secara agregat, laba bersih yang dilaporkan perusahaan meningkat 14,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 3Q26. Sementara itu, sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26), pertumbuhannya mencapai 17,1 persen yoy.
Namun, jika menggunakan laba inti atau yang telah disesuaikan (core/adjusted earnings), pertumbuhannya lebih moderat, yakni 7,9 persen yoy pada 3Q26 dan 10,7 persen yoy selama 9M26.
Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan laba yang dilaporkan belum sepenuhnya mencerminkan penguatan kinerja operasional secara merata.
BRI Danareksa menilai, hasil awal kinerja 9M26 secara umum masih sejalan dengan ekspektasi.
Meski demikian, capaian masing-masing sektor memperlihatkan dinamika yang berbeda, mulai dari perbaikan harga komoditas dan kontribusi bisnis baru hingga tekanan margin serta kenaikan biaya.
Batu Bara dan Logam Jadi Penopang, Unggas Tertinggal
Di sektor batu bara, dua dari tiga emiten yang telah masuk dalam cakupan analisis berhasil melampaui estimasi.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memperoleh dukungan dari harga jual rata-rata (average selling price/ASP) yang lebih kuat, sedangkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mulai mendapatkan kontribusi dari bisnis aluminium.
Sebaliknya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kinerja di bawah perkiraan akibat komposisi penjualan (sales mix) yang lebih lemah dan tekanan biaya.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada pemulihan volume pengiriman batu bara PTBA dan ADRO, serta realisasi penjualan dan margin AADI.
Sektor logam mencatat pertumbuhan laba paling tinggi, dengan laba agregat meningkat 244,1 persen yoy pada 3Q26, meskipun pertumbuhan secara kuartalan relatif terbatas, yakni 0,3 persen.
Kenaikan tersebut antara lain ditopang oleh perbaikan kinerja PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan kinerja PT Timah Tbk (TINS) serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang lebih kuat.
Namun, tekanan margin masih membayangi PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sementara eksekusi operasional PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tetap menjadi perhatian.
BRI Danareksa melihat perkembangan harga dan volume timah, ramp-up bisnis hilirisasi AMMN, serta realisasi produksi BRMS sebagai sejumlah variabel penting untuk memantau kinerja sektor ini pada kuartal IV-2026.
Berbeda dengan batu bara dan logam, sektor perunggasan (poultry) menjadi salah satu yang terlemah dari sisi pencapaian terhadap estimasi.
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) sama-sama mencatatkan kinerja di bawah perkiraan, meskipun terdapat perbaikan secara kuartalan.
Secara agregat, laba inti sektor poultry turun 11,8 persen yoy, meskipun meningkat 36,9 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Pemulihan Livibird belum cukup mengimbangi tekanan margin pakan dan kenaikan biaya pembiayaan.
Dengan demikian, pergerakan harga day-old chick (DOC), harga ayam hidup (livebird), margin pakan, dan tingkat persediaan masih akan menentukan keberlanjutan pemulihan sektor tersebut.
Konsumer dan Telekomunikasi Masih Tertekan
Di sektor konsumer, pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan laba inti. Pendapatan sektor ini tumbuh 15,1 persen yoy, tetapi laba inti hanya meningkat 8,0 persen yoy dan justru turun 5,5 persen qoq.
Tekanan terutama berasal dari margin yang lebih rendah dan melemahnya laba inti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Sementara itu, pemulihan kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan perkembangan ekspor PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menjadi perhatian untuk periode berikutnya.
Sektor telekomunikasi juga menghadapi tekanan. Laba inti tercatat turun 28,6 persen qoq seiring melemahnya pendapatan seluler dan meningkatnya biaya terkait infrastruktur jaringan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Di sisi lain, PT Indosat Tbk (ISAT) masih memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan EBITDA, meskipun kenaikan biaya operasional tetap menjadi tantangan.
Sementara itu, sektor perbankan menunjukkan hasil yang relatif beragam. Dari emiten yang telah tercakup, satu perusahaan melampaui estimasi, empat sesuai perkiraan, dan satu berada di bawah ekspektasi.
Laba agregat sektor perbankan tumbuh 8,1 persen yoy dan 1,6 persen qoq. Pendapatan berbasis biaya (fee-based income) dan efisiensi operasional PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membantu mengimbangi tekanan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Sebaliknya, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatatkan kinerja di bawah perkiraan.
Ke depan, biaya pendanaan (cost of funds), kualitas aset, dan pertumbuhan kredit menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati. BMRI juga telah menaikkan panduan pertumbuhan kredit.
Kinerja 4Q26 Diperkirakan Tetap Selektif
Di luar sektor-sektor tersebut, sejumlah industri juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat.
Sektor alat berat, misalnya, membukukan kenaikan laba agregat 7,0 persen yoy dan 251,0 persen qoq, ditopang oleh dimulainya kembali aktivitas tambang Martabe serta peningkatan aktivitas PT Pamapersada Nusantara (PAMA) milik PT United Tractors Tbk (UNTR).
Sektor otomotif mencatatkan pertumbuhan laba 11,5 persen yoy dan 19,7 persen qoq. Kekuatan bisnis roda dua, perbaikan margin otomotif, serta pemulihan kinerja UNTR menjadi faktor pendukung.
Sektor teknologi mencatatkan kenaikan laba 59,4 persen qoq, dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melampaui estimasi. Perbaikan bisnis teknologi finansial (fintech) membantu mengimbangi pelemahan layanan on-demand (ODS).
Sektor utilitas juga mencatatkan pertumbuhan laba 33,0 persen yoy dan 32,0 persen qoq, didukung normalisasi biaya.
Sementara itu, sektor farmasi membukukan pertumbuhan laba 35,0 persen yoy dan 67,1 persen qoq, seiring pemulihan kinerja kuartalan, meskipun laba inti 9M26 masih turun 26,4 persen yoy.
BRI Danareksa memperkirakan kinerja pada 4Q26 masih akan sangat bergantung pada perkembangan masing-masing perusahaan (company-specific), alih-alih menunjukkan pemulihan yang merata di seluruh sektor.
Sejumlah faktor yang perlu diperhatikan antara lain percepatan pengiriman batu bara PTBA, ADRO, dan UNTR, peningkatan produksi bisnis hilirisasi AMMN, realisasi produksi BRMS, serta perkembangan biaya pendanaan perbankan.
Dengan musim laporan keuangan yang masih berlangsung dan belum seluruh emiten melaporkan hasil kinerjanya, gambaran mengenai kekuatan laba korporasi pada 2026 masih dapat berkembang.
Karena itu, hasil awal 9M26 ini belum menjadi potret final untuk keseluruhan pasar. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.