IDXChannel - Pasar obligasi Indonesia dinilai masih mampu meredam guncangan sentimen akibat rencana MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Namun, ketahanan tersebut perlu dicermati karena cadangan devisa terus menyusut dan ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.
Chief Economist Sucor Sekuritas Ahmad Mikail Zaini dan Economist Associate Sucor Sekuritas M. Farid Gumilar menilai, kondisi Indonesia saat ini lebih mencerminkan guncangan kepercayaan pasar ketimbang krisis neraca pembayaran atau krisis solvabilitas.
Dalam riset yang terbit pada 21 Oktober 2026, keduanya menilai pasar obligasi masih relatif terlindungi dari tekanan yang menghantam pasar saham.
Meski demikian, ketahanan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar yang bebas dari intervensi kebijakan.
Tekanan terhadap obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) memang meningkat setelah MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market.
MSCI menilai status Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini.
Lembaga penyedia indeks tersebut menyoroti struktur kepemilikan saham yang tidak transparan, kualitas saham beredar di publik (free float), serta dugaan perdagangan saham yang terkoordinasi.
MSCI membuka periode konsultasi hingga 30 April 2027 dan dijadwalkan mengambil keputusan paling lambat 30 Juni 2027.
Selama proses tersebut, pembekuan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI yang telah berlaku sejak Januari 2026 tetap dipertahankan.
Pasar Obligasi Lebih Tahan terhadap Guncangan MSCI
Berbeda dengan pasar saham yang mengalami tekanan tajam, pergerakan pasar obligasi pemerintah dinilai masih relatif terkendali.
Sucor Sekuritas mencatat, imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun meningkat ketika imbal hasil US Treasury justru menurun.
Pergerakan tersebut mengindikasikan kenaikan premi risiko yang spesifik berasal dari Indonesia, bukan semata-mata akibat perubahan suku bunga global.
Pada 19 Oktober 2026, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 24 basis poin.
Sebaliknya, imbal hasil tenor dua dan lima tahun justru sedikit menurun, mencerminkan penyesuaian yang tidak merata di sepanjang kurva imbal hasil.
Menurut Sucor Sekuritas, terdapat tiga faktor yang membuat dampak gejolak MSCI terhadap pasar obligasi lebih terbatas dibandingkan pasar saham.
Pertama, keputusan MSCI berkaitan langsung dengan indeks saham, sedangkan bobot Indonesia dalam indeks utama obligasi berdenominasi mata uang lokal tidak terdampak secara langsung.
Kedua, kepemilikan investor asing di pasar SBN sudah relatif rendah setelah aksi jual selama setahun terakhir.
Ketiga, Bank Indonesia (BI) aktif membeli SBN sebagai bagian dari strategi intervensi tiga jalur atau triple intervention.
Meski demikian, rendahnya kepemilikan asing dan pembelian SBN oleh BI juga menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa jauh ketenangan pasar tersebut mencerminkan permintaan yang terbentuk secara alami.
Kepemilikan asing yang hanya sekitar 13 persen memang mengurangi risiko penarikan dana secara mendadak dalam skala besar.
Namun, besarnya kepemilikan bank sentral membuat pergerakan imbal hasil obligasi turut dipengaruhi kebijakan, sehingga tidak selalu dapat diandalkan sebagai indikator dini tekanan ekonomi.
“Kritiknya, besarnya kepemilikan BI dapat dipandang sebagai bentuk burden-sharing dan menimbulkan risiko terhadap kredibilitas fiskal, yang justru dapat menjadi argumen untuk mempertanyakan kesimpulan kami,” tulis Sucor.
Karena itu, Sucor Sekuritas menilai indikator lain, seperti credit default swap (CDS), permintaan dalam lelang obligasi pemerintah, cadangan devisa, dan nilai tukar rupiah, perlu mendapat perhatian lebih besar dalam menilai risiko krisis.
Berbeda dengan Krisis 1998 dan Argentina
Sucor Sekuritas juga menilai kondisi Indonesia saat ini tidak tepat disamakan begitu saja dengan krisis ekonomi 1997-1998.
Krisis pada periode tersebut tidak berawal dari pasar obligasi pemerintah domestik, karena Indonesia saat itu belum memiliki pasar obligasi lokal yang berkembang seperti sekarang.
Krisis justru dipicu oleh sejumlah faktor yang saling memperburuk, yakni sistem nilai tukar yang akhirnya runtuh di bawah tekanan, utang dolar jangka pendek korporasi tanpa lindung nilai yang besar, sistem perbankan yang lemah dan kurang diawasi, serta cadangan devisa yang tidak memadai untuk mempertahankan mata uang.
Ketika rupiah terdepresiasi tajam, beban utang korporasi dalam dolar melonjak, perbankan mengalami kegagalan, dan tekanan menyebar ke seluruh perekonomian.
Menurut Sucor Sekuritas, pengujian risiko Indonesia saat ini seharusnya berfokus pada apakah saluran-saluran krisis tersebut kembali terbuka, bukan hanya pada kenaikan imbal hasil obligasi.
Keduanya juga menilai Indonesia memiliki perbedaan mendasar dengan Argentina, yang status pasarnya diturunkan MSCI menjadi Standalone Market pada 2021.
Argentina menghadapi pembatasan arus modal yang menyulitkan investor asing menarik dana sejak September 2019.
Negara tersebut juga mengalami inflasi konsumen yang tinggi menjelang perubahan klasifikasi MSCI, sementara gagal bayar utang pemerintah telah terjadi pada 2020. Pada periode tersebut, nilai peso Argentina juga merosot sekitar 90 persen.
Sebaliknya, ekonomi Indonesia masih tumbuh relatif stabil, dengan pertumbuhan yang melampaui sejumlah ekonomi utama.
Defisit anggaran juga tetap dibatasi di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), sedangkan inflasi masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen, dengan deviasi plus-minus 1 persen.
Sucor menegaskan, persoalan yang disoroti MSCI berpusat pada transparansi, tata kelola, dan free float di pasar saham.
Dengan demikian, permasalahan tersebut dinilai masih dapat ditangani oleh regulator melalui pembenahan mekanisme pasar dan keterbukaan informasi sebelum keputusan final MSCI pada Juni 2027.
Cadangan Devisa Menyusut, Ruang BI Kian Terbatas
Kendati pasar obligasi masih relatif stabil, Sucor mengingatkan bahwa sejumlah bantalan ekonomi Indonesia mulai menipis.
Cadangan devisa Indonesia telah berkurang sekitar USD10 miliar sejak awal 2026 menjadi USD146,3 miliar. Sementara itu, defisit transaksi berjalan melebar menjadi sekitar USD12,5 miliar pada kuartal II-2026.
Ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter juga semakin terbatas akibat menyempitnya selisih imbal hasil SBN dengan US Treasury.
Kondisi tersebut dapat membatasi fleksibilitas BI dalam menurunkan suku bunga ketika tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.
Bagi Sucor Sekuritas, risiko utama bukanlah memburuknya fundamental makroekonomi seperti yang dialami Argentina, melainkan kemungkinan merambatnya krisis kepercayaan di pasar saham ke kredibilitas kebijakan ekonomi secara lebih luas.
Saluran inilah yang perlu diwaspadai karena tekanan pasar dapat berkembang menjadi krisis apabila kepercayaan investor terhadap kemampuan pemerintah dan otoritas menjaga stabilitas ekonomi ikut melemah.
Dari sisi strategi investasi, Sucor melihat likuiditas BI dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih menopang imbal hasil obligasi tenor pendek.
Sementara itu, premi risiko lebih banyak tercermin pada tenor menengah hingga panjang.
Kondisi tersebut membuat Sucor menyarankan investor untuk mempertahankan eksposur pada obligasi berjangka pendek hingga menengah, serta menambah posisi secara bertahap alih-alih langsung memperpanjang durasi ke tenor panjang.
Katalis utama bagi penurunan kembali premi risiko pada obligasi tenor panjang adalah paket reformasi yang kredibel dari regulator sebelum April 2027, terutama untuk menjawab persoalan transparansi dan tata kelola pasar saham yang menjadi perhatian MSCI.
Sucor menyimpulkan, Indonesia saat ini menghadapi guncangan kepercayaan pasar, bukan krisis neraca pembayaran maupun krisis solvabilitas.
Pasar obligasi sejauh ini masih mampu menyerap tekanan secara relatif teratur, sementara saluran utama yang memperparah krisis 1998 dinilai sebagian besar tidak lagi terbuka.
Namun, ketahanan tersebut tetap memiliki batas. Stabilitas pasar obligasi sebagian ditopang intervensi BI, sementara cadangan devisa dan ruang kebijakan terus menghadapi tekanan.
“Meski demikian, kondisi pasar obligasi yang relatif tenang menunjukkan bahwa Indonesia masih cukup terlindungi dari guncangan yang dipicu oleh isu MSCI,” tulis Sucor. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.