IDXChannel - OPEC+ dikabarkan sepakat untuk menaikkan target produksi minyak pada Juni, kata dua sumber yang dekat dengan kelompok tersebut. Namun, kenaikan ini kemungkinan hanya bersifat simbolis selama perang AS-Iran terus mengganggu pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Melansir Investing, Minggu (3/5/2026), tujuh negara OPEC+ secara prinsip dikabarkan sepakat untuk menaikkan target produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari pada Juni, yang menjadi kenaikan bulanan ketiga berturut-turut. Mereka tetap melanjutkan rencana tersebut meskipun ada perang dan keluarnya Uni Emirat Arab dari kelompok minggu ini.
Tujuh anggota yang akan bertemu pada Minggu adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Dengan keluarnya UEA, OPEC+ kini beranggotakan 21 negara, termasuk Iran. Namun dalam beberapa tahun terakhir, hanya tujuh negara tersebut ditambah UEA yang terlibat dalam keputusan produksi bulanan.
Perang Iran yang dimulai pada 28 Februari, serta penutupan Selat Hormuz telah menekan ekspor dari anggota OPEC+ seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, serta UEA. Sebelum konflik, negara-negara ini adalah satu-satunya dalam kelompok yang mampu meningkatkan produksi.
Iran, yang juga anggota OPEC+ meskipun tidak termasuk dalam tujuh negara yang bertemu pada Minggu, juga mengalami penurunan ekspor akibat blokade AS yang diberlakukan pada April.
Gangguan ini mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat tahun minggu ini, melampaui USD125 per barel, seiring analis mulai memperkirakan potensi kekurangan bahan bakar jet dalam satu hingga dua bulan serta lonjakan inflasi global.
Keputusan kenaikan pasokan, kata sumber tersebut, akan mirip dengan kenaikan bulan lalu sebesar 206.000 barel per hari, dikurangi porsi UEA yang keluar dari kelompok pada 1 Mei.
Keputusan ini menunjukkan bahwa OPEC+ tetap menjalankan pendekatan “business as usual” dan siap meningkatkan pasokan setelah perang berakhir.
Produksi minyak mentah dari seluruh anggota OPEC+ rata-rata mencapai 35,06 juta barel per hari pada Maret, turun 7,70 juta barel per hari dibanding Februari, menurut laporan OPEC bulan lalu.
Irak dan Arab Saudi mencatat penurunan terbesar akibat terbatasnya ekspor. Di luar kawasan Teluk, Rusia juga memangkas produksi setelah serangan drone Ukraina merusak infrastrukturnya.
Harga minyak turun pada Jumat setelah Iran mengirim proposal perdamaian terbaru kepada mediator di Pakistan, yang kembali memunculkan harapan bahwa kesepakatan dengan AS masih mungkin terjadi.
Kontrak berjangka minyak mentah AS turun 3 persen dan ditutup pada USD101,94 per barel. Sementara itu, patokan internasional Brent turun hampir 2 persen dan menetap di USD108,17.
(NIA DEVIYANA)