IDXChannel - Keputusan United Arab Emirates (UEA) untuk keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansi OPEC+ mulai 1 Mei 2026 mengakhiri hampir enam dekade keterlibatan dalam kebijakan produksi minyak yang terkoordinasi.
Negara tersebut bergabung dengan OPEC pada 1967 melalui Abu Dhabi dan tetap menjadi anggota setelah federasi terbentuk pada 1971. Bersama produsen besar di Teluk, UEA berkontribusi pada produksi dari Timur Tengah, yang menyumbang sekitar 30 persen pasokan minyak global.
Menteri Energi UEA Suhail Mohamed al-Mazrouei mengatakan kepada Reuters bahwa keputusan ini diambil setelah peninjauan cermat terhadap kebijakan saat ini dan ke depan terkait tingkat produksi, dan diputuskan secara independen.
“Dalam banyak hal, kejutan utama dari pengumuman hari ini bahwa UEA akan keluar dari OPEC dan OPEC+ pada awal Mei justru terletak pada waktunya, bukan substansinya,” kata Senior Research Strategist di Pepperstone, Michael Brown.
Di balik keputusan keluar tersebut, terdapat sejumlah konsekuensi strategis dan benefitnya bagi UEA, dilansir Al Jazeera.
Akhir sistem kuota produksi
Keluar dari OPEC dan OPEC+ berarti UEA tidak lagi terikat pada kesepakatan produksi bersama.
Negara ini tidak akan lagi mengikuti kuota produksi yang ditetapkan kelompok, melainkan menentukan tingkat produksi berdasarkan kapasitas sendiri dan kondisi pasar.
UEA menyatakan berencana meningkatkan kapasitas produksi dari sekitar 3,4 juta barel per hari menjadi 5 juta barel per hari pada 2027.
Brown mengatakan ketidakpuasan UEA terhadap kuota OPEC sudah terlihat secara terbuka, karena dianggap membatasi investasi infrastruktur dan ekspansi produksi.
Fleksibilitas lebih besar dalam keputusan pasokan
Beroperasi di luar aliansi memberi UEA keleluasaan menyesuaikan produksi tanpa harus berkoordinasi dengan produsen lain. Pemerintah negara tersebut menyebut tambahan pasokan akan masuk ke pasar secara bertahap, mengikuti permintaan dan kondisi yang berlaku.
UEA menegaskan langkah ini adalah keputusan kebijakan, bukan hasil konsultasi dengan negara lain.
“Meski UEA berjanji akan meningkatkan produksi secara bertahap setelah keluar, melakukannya saat ini berada di antara sulit dan hampir mustahil,” kata Brown.