"Di beberapa aspek memang sebelum kami mengikuti tender-tender, kami melihat dari sisi nilai dan profitabilitasnya saja, tapi kami juga melihat bagaimana suatu tender atau suatu proyek itu dapat membuat kami lebih mempunyai experience," kata dia.
Tekanan persaingan tersebut juga berdampak terhadap margin perseroan. Dalam paparan kinerja semester I-2026, RUIS mencatat profitabilitas proyek turun 12,6 persen. Manajemen menyebut semakin ketatnya kompetisi membuat perseroan harus lebih selektif dalam menentukan margin ketika mengikuti tender.
Di sisi lain, komposisi proyek juga menjadi faktor yang menekan profitabilitas. Kontribusi segmen Operations, Maintenance and Energy Services (OMES) terhadap pendapatan meningkat dari 64 persen menjadi 71 persen.
Segmen tersebut memiliki rata-rata margin yang lebih rendah dibandingkan bisnis Asset Integrity Services (AIS).
Meski perolehan kontrak baru menurun, RUIS masih memiliki kontrak aktif dalam jumlah besar. Hingga semester I 2026, perseroan mengantongi sekitar 321 kontrak dengan nilai sekitar Rp5 triliun. Sekitar 62 persen dari portofolio tersebut masih berasal dari sektor minyak dan gas.