Keunggulan kompetitif HMBC ditopang lima pilar, yakni pengenalan merek, pengalaman klinis, layanan terintegrasi, sinergi antargrup, dan modal relasi. Hubungan strategis dengan BPJS, ASKLIN, perusahaan, dan komunitas juga dinilai menjadi keunggulan yang sulit direplikasi pemain baru dalam waktu singkat.
Saat ini, HMBC dikendalikan oleh Gugun Iskandar dan Risthi Grantia lewat Hasna Medika Grup (HMUG). Nama Pieter Tanuri yang dikenal sebagai pemilik PT Bola Bintang Sejahtera Tbk atau Bali United (BOLA) juga tercatat sebagai pemegang saham HMBC.
Perseroan bersama HMUG telah menandatangani dua akta perjanjian, yakni Conditional Share Subscription Agreement (CSSA) dan Conditional Share Sale and Purchase Agremeent (CSPA) pada 20 Agustus 2026. Perjanjian tersebut memungkinkan Savitra memiliki kontrol penuh atas HMBC.
Dari sisi keuangan, HMBC mencatat pertumbuhan meski masih membukukan kerugian. Per 30 April 2026, aset perseroan mencapai Rp365,3 miliar, naik dari Rp320,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan meningkat menjadi Rp75,5 miliar dari Rp71,8 miliar, sedangkan laba bruto naik menjadi Rp16,6 miliar dari Rp9,4 miliar.
Pada periode yang sama, rugi bersih HMBC menyusut menjadi Rp12,3 miliar dari Rp22,8 miliar. Namun, ekuitas turun menjadi Rp30,3 miliar dari Rp43,2 miliar. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penguatan struktur permodalan melalui penerbitan saham baru dan konversi utang sebesar Rp33,447 miliar kepada Pieter Tanuri, Roy Himawan, dan Darwin Cyril Noerhadi.