sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Profil Hasna Medika, RS Jantung yang Diincar Savitra (VISI) Milik Nagita-Raffi

Market news editor Rahmat Fiansyah
27/08/2026 23:00 WIB
PT Satu Visi Putra Tbk atau Savitra (VISI) tengah bersiap bertransformasi ke sektor kesehatan setelah berkutat di bidang bahan advertising dan printing.
PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) tengah bersiap bertransformasi ke sektor kesehatan setelah berkutat di bidang bahan advertising dan printing. (Foto: Ist)
PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) tengah bersiap bertransformasi ke sektor kesehatan setelah berkutat di bidang bahan advertising dan printing. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Satu Visi Putra Tbk atau Savitra (VISI) tengah bersiap bertransformasi ke sektor kesehatan setelah selama ini berkutat di bidang bahan advertising dan printing. Perseroan akan mengambil alih 72,91 persen saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon (HMBC), grup layanan kesehatan yang berfokus pada penanganan penyakit jantung, dengan nilai transaksi mencapai Rp286 miliar.

Akuisisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari rencana transformasi Savitra di bawah kendali pasangan artis Nagita Slavina dan Raffi Ahmad menjadi perusahaan induk (holding company). Melalui aksi korporasi tersebut, perseroan akan masuk ke bisnis rumah sakit dan layanan kesehatan yang memiliki jaringan di sejumlah wilayah Indonesia.

HMBC didirikan pada 28 Maret 2012 dan berkedudukan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Berdasarkan anggaran dasarnya, perusahaan bergerak di bidang aktivitas kesehatan manusia, dengan lini usaha utama berupa penyelenggaraan rumah sakit umum dan rumah sakit swasta.

Grup Hasna Medika mengoperasikan dua RS khusus jantung yang dilengkapi layanan cath lab aktif dengan sistem hub-and-spoke, serta 11 klinik yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Bali. Struktur grup tersebut mencakup 19 entitas, antara lain Hasna Medika Bakti Indramayu, Hasna Medika Bhakti Garut, Jantung Bali Medika, dan Bintang Jantung Malang.

Berdasarkan dokumen studi kelayakan KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan & Rekan dikutip Kamis (27/8/2026), ada sekitar 1,69 juta penderita penyakit jantung di wilayah operasional HMBC dengan 382 ribu jiwa berada di area tangkapan langsung layanan. Berdasarkan volume kunjungan pasien 2025 yang disetarakan sekitar 137 ribu pasien, HMBC diperkirakan memiliki pangsa pasar 8,1 persen dari total penderita penyakit jantung di seluruh provinsi operasionalnya dengan penetrasi di area tangkapan langsung 35,9 persen.

Keunggulan kompetitif HMBC ditopang lima pilar, yakni pengenalan merek, pengalaman klinis, layanan terintegrasi, sinergi antargrup, dan modal relasi. Hubungan strategis dengan BPJS, ASKLIN, perusahaan, dan komunitas juga dinilai menjadi keunggulan yang sulit direplikasi pemain baru dalam waktu singkat.

Saat ini, HMBC dikendalikan oleh Gugun Iskandar dan Risthi Grantia lewat Hasna Medika Grup (HMUG). Nama Pieter Tanuri yang dikenal sebagai pemilik PT Bola Bintang Sejahtera Tbk atau Bali United (BOLA) juga tercatat sebagai pemegang saham HMBC. 

Perseroan bersama HMUG telah menandatangani dua akta perjanjian, yakni Conditional Share Subscription Agreement (CSSA) dan Conditional Share Sale and Purchase Agremeent (CSPA) pada 20 Agustus 2026. Perjanjian tersebut memungkinkan Savitra memiliki kontrol penuh atas HMBC.

Dari sisi keuangan, HMBC mencatat pertumbuhan meski masih membukukan kerugian. Per 30 April 2026, aset perseroan mencapai Rp365,3 miliar, naik dari Rp320,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan meningkat menjadi Rp75,5 miliar dari Rp71,8 miliar, sedangkan laba bruto naik menjadi Rp16,6 miliar dari Rp9,4 miliar.

Pada periode yang sama, rugi bersih HMBC menyusut menjadi Rp12,3 miliar dari Rp22,8 miliar. Namun, ekuitas turun menjadi Rp30,3 miliar dari Rp43,2 miliar. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penguatan struktur permodalan melalui penerbitan saham baru dan konversi utang sebesar Rp33,447 miliar kepada Pieter Tanuri, Roy Himawan, dan Darwin Cyril Noerhadi.

Nilai pasar 100 persen ekuitas HMBC mencapai Rp110,063 miliar atau setara Rp1.898.234 per saham. Nilai tersebut menjadi salah satu acuan transaksi pengambilalihan dengan total nilai Rp286 miliar, yang terdiri atas penerbitan saham baru senilai Rp255 miliar dan pembelian saham dari HMUG senilai Rp31 miliar.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement