PTBA juga tengah mengembangkan PLTU berkapasitas 1,44 gigawatt (GW) di Mempawah, Kalimantan Barat, untuk memasok listrik bagi proyek hilirisasi bauksit serta alumina-aluminium milik Inalum.
Analis menilai proyek tersebut dapat menciptakan permintaan baru yang relatif stabil bagi batu bara PTBA, mengingat pembelinya merupakan proyek hilirisasi Inalum yang bersifat captive.
Dari sisi operasional, model pengangkutan berbasis kereta juga membuat PTBA relatif lebih terlindungi dari dampak El Niño dibandingkan produsen batu bara yang mengandalkan angkutan tongkang sungai di Kalimantan.
Namun, curah hujan ekstrem justru menjadi risiko yang lebih besar bagi produksi PTBA.
Curah hujan ekstrem pada kuartal I 2026 bahkan menyebabkan produksi PTBA turun 22 persen secara tahunan.