Pada akhir Agustus 2025, defisit APBN sempat bertengger di angka Rp321,6 triliun atau 1,35 persen dari PDB, lalu membengkak menjadi Rp371,5 triliun pada September 2025. Dengan realisasi defisit September 2026 sebesar Rp319 triliun, angka tersebut turun 14,13 persen dibanding September 2025, sekaligus masih terjaga di bawah batas desain defisit setahun penuh 2026 yang dipatok Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen dari PDB.
Kendati indikator tahunan menunjukkan perbaikan, pasar valuta asing tetap mengantisipasi risiko tekanan eksternal dan fiskal dalam jangka pendek. Pelaku pasar menantikan katalis lanjutan sebelum mengambil posisi beli pada aset berdenominasi rupiah.
"Untuk pergerakan sepanjang sepekan ke depan, diperkirakan mata uang rupiah akan bergerak di rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per USD. Pelaku pasar masih terus mencermati keseimbangan antara perbaikan defisit tahunan dan risiko lonjakan belanja di sisa tahun anggaran," tutur Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)