"Pasar global kini menantikan rilis risalah pertemuan FOMC September pada hari Rabu serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada hari Kamis. Kedua agenda tersebut akan menjadi rujukan utama bagi pelaku pasar dalam memetakan arah likuiditas dolar AS jangka pendek," kata Ibrahim.
Beralih ke faktor internal, rupiah memperoleh dorongan moril setelah Bank Dunia merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2 persen.
Akselerasi tersebut disokong oleh tingginya konsumsi rumah tangga dan percepatan pengeluaran pemerintah di awal tahun, bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri yang tiba lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, hingga peluncuran program makan bergizi gratis yang memajukan siklus belanja fiskal.
Intervensi belanja perlindungan sosial dan subsidi energi skala besar juga dinilai berhasil membentengi daya beli domestik dari rambatan volatilitas eksternal. Kebijakan tersebut sukses menurunkan laju inflasi dari 4,8 persen pada Februari menjadi 3,4 persen pada Juli 2026, meski inflasi tahunan diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas target Bank Indonesia dan pemerintah di kisaran 2,5±1 persen.
"Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen berkat belanja publik, investasi terhubung negara, serta besarnya subsidi energi yang digelontorkan pemerintah. Langkah mempertahankan subsidi bahan bakar terbukti efektif menahan lonjakan harga sehingga tekanan inflasi domestik dapat mereda secara bertahap," kata Ibrahim.