sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Hari Ini Diprediksi Fluktuatif dan Berpotensi Melemah Rp17.890-Rp17.940 per USD

Market news editor Rohman Wibowo
07/10/2026 05:05 WIB
Namun, momentum penguatan ini dinilai masih rentan tertahan mengingat ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global masih memicu volatilitas transaksi harian.
Rupiah Hari Ini Diprediksi Fluktuatif dan Berpotensi Melemah Rp17.890-Rp17.940 per USD. (Foto Istimewa)
Rupiah Hari Ini Diprediksi Fluktuatif dan Berpotensi Melemah Rp17.890-Rp17.940 per USD. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (6/10/2026) ditutup menguat 18 poin ke level Rp17.899 per USD. Apresiasi mata uang Garuda ini terdorong oleh perpaduan sentimen eksternal berupa pelemahan laju inflasi AS yang meredam agresivitas The Fed, serta sentimen domestik menyusul revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.

Laju mata uang Garuda berhasil membalikkan arah pelemahan setelah data inflasi Amerika Serikat memberi ruang kelegaan bagi pasar keuangan negara berkembang. Namun, momentum penguatan ini dinilai masih rentan tertahan mengingat ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global masih memicu volatilitas transaksi harian.

"Rilis inflasi PCE Amerika Serikat yang melandai di bawah ekspektasi menekan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan akhir Oktober mendatang. Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.890 hingga Rp17.940 per USD," ujar Pengamat Ekonomi Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu (7/10/2026).

Secara eksternal, kata dia, laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS edisi Agustus berada di bawah proyeksi pasar, diikuti revisi turun pada data periode sebelumnya. Rangkaian angka ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih jinak tersebut secara signifikan mengikis ekspektasi pengetatan moneter lanjutan oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC tanggal 27–28 Oktober.

Pelaku pasar saat ini membatasi akumulasi valuta asing sembari mengantisipasi sinyal kebijakan moneter dari notula rapat bank sentral AS. Kehati-hatian investor tersebut kian dipertegas oleh rilis sejumlah indikator ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang dijadwalkan terbit dalam waktu dekat.

"Pasar global kini menantikan rilis risalah pertemuan FOMC September pada hari Rabu serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada hari Kamis. Kedua agenda tersebut akan menjadi rujukan utama bagi pelaku pasar dalam memetakan arah likuiditas dolar AS jangka pendek," kata Ibrahim.

Beralih ke faktor internal, rupiah memperoleh dorongan moril setelah Bank Dunia merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2 persen. 

Akselerasi tersebut disokong oleh tingginya konsumsi rumah tangga dan percepatan pengeluaran pemerintah di awal tahun, bertepatan dengan momentum Ramadan dan Idulfitri yang tiba lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, hingga peluncuran program makan bergizi gratis yang memajukan siklus belanja fiskal.

Intervensi belanja perlindungan sosial dan subsidi energi skala besar juga dinilai berhasil membentengi daya beli domestik dari rambatan volatilitas eksternal. Kebijakan tersebut sukses menurunkan laju inflasi dari 4,8 persen pada Februari menjadi 3,4 persen pada Juli 2026, meski inflasi tahunan diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas target Bank Indonesia dan pemerintah di kisaran 2,5±1 persen.

"Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen berkat belanja publik, investasi terhubung negara, serta besarnya subsidi energi yang digelontorkan pemerintah. Langkah mempertahankan subsidi bahan bakar terbukti efektif menahan lonjakan harga sehingga tekanan inflasi domestik dapat mereda secara bertahap," kata Ibrahim.

Meski demikian, Bank Dunia memberikan catatan kewaspadaan terkait perlambatan aktivitas manufaktur nasional, tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) yang merosot ke level 49,3 pada Agustus dan penurunan indeks keyakinan konsumen ke angka 116,8 pada Juli. 

Selain itu, pelebaran defisit memicu kekhawatiran atas tren keberlanjutan fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings), setelah sentimen pasar sempat memburuk pada Januari akibat lonjakan harga minyak mentah dunia dan arus modal keluar portofolio yang mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I-2026.

Tantangan struktural lain datang dari proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia yang diperkirakan Bank Dunia melebar menjadi 1,5 persen dari PDB pada 2026. Dinamika fundamental neraca eksternal ini diproyeksikan akan menahan ruang penguatan rupiah dalam jangka menengah.

"Penurunan PMI manufaktur ke zona kontraksi dan proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan hingga 1,5 persen PDB tetap perlu diwaspadai sebagai penahan laju penguatan rupiah. Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, kami memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara Rp17.750 hingga Rp18.050 per USD," ujarnya.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement