Secara bulanan, penjualan eceran Agustus 2026 membukukan pertumbuhan 0,8 persen (month-to-month/mtm) setelah sempat terkontraksi 0,1 persen (mtm) pada Juli. Kinerja bulanan tersebut ditopang oleh Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang naik 3,8 persen (mtm) serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 1,7 persen (mtm) seiring terjaganya permintaan pada periode Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
BI pun memprakirakan tren positif ini berlanjut pada September 2026 dengan pertumbuhan IPR tahunan sebesar 1,4 persen (yoy) hingga mencapai level 221,3.
Solidnya indikator konsumsi ritel nasional menjadi angin segar yang menepis kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli masyarakat. Data fundamental ini berfungsi sebagai peredam guncangan yang mencegah mata uang garuda terkoreksi lebih tajam.
"Survei Bank Indonesia menunjukkan penjualan eceran tetap tumbuh positif baik secara bulanan maupun tahunan berkat momentum perayaan kemerdekaan. Kinerja
konsumsi riil yang solid ini memberikan bantalan bagi rupiah agar tidak melemah secara berlebihan di tengah gejolak pasar eksternal," urai Ibrahim.
(NIA DEVIYANA)