Sentimen pasar terhadap Indonesia sempat memburuk pada bulan Januari, yang kemudian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah global dan gangguan pengiriman. Arus modal keluar (portfolio outflows) tercatat mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I-2026.
Langkah pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar juga disebut mampu menekan kenaikan harga dan menahan tekanan inflasi, yang mana tingkat inflasi berhasil turun dari 4,8 persen pada bulan Februari menjadi 3,4 persen pada bulan Juli 2026.
Di samping itu, Bank Dunia memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan melebar menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Sementara itu, tingkat inflasi diperkirakan akan tetap berada di sekitar batas atas rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yaitu 2,5±1 persen.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.750-Rp18.030 per USD.
(Dhera Arizona)