Bagi pasar, kondisi ini menjadi perhatian karena kenaikan harga pangan dapat menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah.
Meskipun inflasi umum sedikit melandai dan masih berada dalam target Bank Indonesia, kenaikan inflasi pangan menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup belum sepenuhnya mereda.
Selain itu, kondisi surplus neraca perdagangan Indonesia masih menghadapi tantangan. Meskipun pada September 2026 surplus perdagangan mencapai USD3,36 miliar tercatat lebih kuat dari perkiraan, tekanan tetap muncul karena pertumbuhan impor lebih cepat dibandingkan ekspor. Artinya, nilai barang yang masuk ke Indonesia meningkat lebih besar dibandingkan nilai barang yang dijual ke luar negeri.
Menurut Ibrahim, kenaikan impor sebenarnya bisa menjadi indikasi meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, dan aktivitas industri dalam negeri.
“Namun, jika pertumbuhan impor terus melampaui ekspor, selisih surplus perdagangan akan semakin menyempit,” kata dia.