IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menyatakan, bauran kebijakan moneter yang diambil bank sentral memantik kembali kepercayaan pelaku pasar global. Setelah secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan BI Rate, aliran modal asing (capital inflow) kembali masuk ke pasar keuangan domestik.
Keputusan BI menaikkan BI Rate dan meningkatkan imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) tenor jangka pendek membuat kurs rupiah menguat. Hal ini mencerminkan respons positif investor terhadap kebijakan BI.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menilai, para pemodal internasional mengapresiasi pengetatan moneter terukur yang dilakukan bank sentral. Gairah investasi asing tersebut langsung tecermin dari hasil aktivitas lelang instrumen portofolio jangka pendek milik bank sentral yang digelar tengah pekan lalu.
"Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut. Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," kata Denny dalam keterangan resmi, Jumat (12/6/2026).
Masuknya kembali dana segar dari luar negeri ini secara otomatis menjadi vitamin bagi keperkasaan mata uang Garuda. Setelah sempat tertekan cukup dalam akibat gejolak geopolitik dunia dan aksi jual, nilai tukar rupiah kini bergerak merangkak naik dan berhasil mematahkan level psikologis di bawah Rp18.000 per dolar AS.
Melihat tren pemulihan ini, BI menegaskan tidak akan lengah. Bank sentral berkomitmen untuk terus memelototi dinamika pergerakan pasar keuangan, baik di kancah global maupun domestik, demi menjaga agar daya saing dan daya pikat instrumen investasi Indonesia tetap kompetitif jika disandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.
Untuk mengawal agar tren penguatan nilai tukar rupiah ini dapat berjalan secara berkesinambungan dan stabil, BI terus menyiagakan barikade operasinya di pasar valuta asing. Denny menegaskan, BI akan terus mengoptimalkan senjata intervensi berlapis secara konsisten untuk meredam potensi volatilitas yang tiba-tiba muncul. Langkah penstabilan ini dieksekusi secara taktis di berbagai lini pasar uang secara simultan.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing. Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi NDF di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik secara konsisten dan terukur," katanya.
(Rahmat Fiansyah)