IDXChannel - PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin (8/6/2026). Sejumlah agenda disetujui oleh pemegang saham mulai dari pengesahan laporan keuangan tahun buku 2025 hingga penetapan strategi untuk mendorong pertumbuhan kinerja pada tahun ini.
Terkait penetapan penggunaan laba bersih, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai final sebesar Rp110,4 miliar atau setara Rp4,08 per saham.
"Dividen ini mencerminkan komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil yang konsisten bagi investor," kata manajemen OMED, Rabu (10/6/2026).
Selain dividen, pemegang saham lewat RUPS Luar Biasa (RUPSLB) juga menyetujui pengalihan saham treasuri dalam rangka pelaksanaan program kepemilikan saham (MESOP) bagi karyawan, direksi, dan dewan komisaris.
Untuk tahap awal, jumlah saham yang dialihkan maksimal 17 juta saham dengan harga pelaksanaan ditentukan berdasarkan nilai wajar pada tanggal pemberian (grant date) dan tidak boleh di bawah harga buyback. Selain itu, ada lock-up period selama 12 bulan.
Selain itu, pemegang saham juga menyetujui perubahan pasal 3 Anggaran Dasar untuk menyesuaikan kegiatan usaha dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.
Untuk menghadapi tahun 2026, perseroan menetapkan tiga inisiatif strategis utama yang akan menjadi motor pertumbuhan. Pertama, OMED berencana memproduksi Intraocular Lens (IOL) secara massal pada kuartal IV-2026 yang menjadi satu-satunya solusi penanganan katarak lewat prosedur penggantian lensa.
Kedua, perseroan akan membuka toko ritel omnichannel di berbagai kota, termasuk pembukaan lokasi baru OneMed Medicom di Purwokerto, Jawa Tengah. Ketiga, perseroan terus mempercepat proses pembangunan National Distribution Center (NCD) di Pulo Gadung, Jakarta yang ditargetkan beroperasi 2026.
Di tengah kondisi gejolak kurs, perseroan menegaskan bahwa produk-produk OMED didominasi alat kesehatan habis pakai sehingga tak sensitif terhadap kondisi makroekonomi. Di samping itu, basis pelanggan perseroan mencapai lebih dari 2.000 rumah sakit dan klinik dengan loyalitas tinggi.
Selain itu, perseroan memiliki posisi kas dan arus kas yang kuat dan sehat. Saat ini, posisi kas mencapai Rp1,3 triliun dengan struktur neraca yang kuat dengan rasio utang berbunga terhadap ekuitas hanya 0,01 kali.
"Hal ini memberikan fleksibilitas keuangan yang memadai dalam menghadapi potensi kenaikan biaya impor akibat pelemahan rupiah," ujarnya.
(Rahmat Fiansyah)