sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Batu Bara Menguat, Simak Gerak BUMI-AADI Cs

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
07/09/2026 09:29 WIB
Saham emiten batu bara kompak menguat pada perdagangan Senin (7/9/2026), seiring harga batu bara termal Newcastle yang masih bertahan di level tinggi.
Saham Batu Bara Menguat, Simak Gerak BUMI-AADI Cs. (Foto: iStock)
Saham Batu Bara Menguat, Simak Gerak BUMI-AADI Cs. (Foto: iStock)

IDXChannel – Saham emiten batu bara kompak menguat pada perdagangan Senin (7/9/2026), seiring harga batu bara termal Newcastle yang masih bertahan di level tinggi dan mendekati rekor 52 minggu.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.19 WIB, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 4,76 persen menjadi Rp220 per saham.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menguat 4,22 persen ke Rp11.725 per saham, diikuti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebesar 3,47 persen dan PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) sebesar 2,54 persen.

Penguatan juga terjadi pada saham KKGI sebesar 1,99 persen, BYAN 1,45 persen, ITMG 1,44 persen, INDY 0,72 persen, serta ABMM 0,70 persen.

Sementara itu, indeks sektor energi atau IDXENERGY naik 1,43 persen dan menjadi sektor dengan penguatan terbesar pada perdagangan pagi.

Sentimen positif turut ditopang pergerakan harga batu bara. Data perdagangan Newcastle Coal Futures menunjukkan kontrak September 2026 ditutup di USD148,65 per ton pada Jumat (4/9/2026), naik 1,12 persen dalam sehari.

Harga tersebut meningkat dari USD146,60 per ton pada 2 September dan USD147 per ton pada 3 September.

Dengan demikian, harga batu bara Newcastle telah menguat dalam beberapa sesi perdagangan terakhir dan tetap berada dekat level tertingginya dalam setahun

Dari sisi fundamental, pasar batu bara Asia masih mendapatkan dukungan dari ketatnya pasokan energi.

Reuters pada Juni lalu melaporkan bahwa gangguan produksi di China serta perubahan kebijakan ekspor Indonesia berpotensi memperketat pasokan batu bara global.

Kondisi tersebut terjadi ketika pasokan LNG juga masih menghadapi tekanan, sehingga batu bara tetap kompetitif sebagai sumber pembangkit listrik di Asia.

Risiko pasokan Indonesia juga menjadi perhatian pasar setelah pemerintah menerapkan kerangka baru tata kelola ekspor komoditas strategis.

PP Nomor 24 Tahun 2026 memasukkan batu bara sebagai salah satu komoditas strategis yang tata kelola ekspornya diatur pemerintah, sementara Permendag Nomor 15 Tahun 2026 mengatur lebih lanjut ketentuan ekspor batu bara.

Di sisi lain, tingginya harga energi global masih menjadi faktor pendukung. Gangguan pasokan LNG dan meningkatnya harga energi dapat mendorong pembangkit di Asia mempertahankan penggunaan batu bara sebagai alternatif bahan bakar.

Westpac sebelumnya memperkirakan harga Newcastle thermal coal berpotensi mencapai puncak sekitar USD145 per ton pada kuartal III-2026, seiring ketatnya pasar LNG, peningkatan pengadaan batu bara oleh sejumlah negara Asia, serta risiko gangguan pasokan Indonesia. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement