Secara bulanan, kinerja saham-saham konglomerat masih tertekan signifikan, dengan mayoritas mencatat penurunan dua digit bahkan hingga di atas 30 persen.
Tekanan tersebut dipicu oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah kekhawatiran pasar terhadap pengumuman MSCI yang sempat membekukan perubahan indeks serta memberikan peringatan terkait potensi penurunan status Indonesia di kategori emerging market akibat isu transparansi kepemilikan saham.
Selain itu, keterbukaan data kepemilikan saham hingga level 1 persen memicu aksi jual investor asing dan domestik karena meningkatnya kekhawatiran terhadap struktur kepemilikan emiten.
Sentimen negatif juga diperkuat oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi domestik.
Risiko IHSG
Meski demikian, BRI Danareksa dalam risetnya pada Rabu (25/3) mengingatkan bahwa IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan setelah libur panjang, terutama akibat ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda.