sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Konglomerat Semringah usai Libur Idulfitri, Tahan Lama atau Sekadar Technical Rebound?

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
25/03/2026 10:50 WIB
Saham-saham emiten konglomerat rebound pada perdagangan Rabu (25/3/2026) pagi, meredakan tekanan jual yang sempat mendominasi pasar.
Saham Konglomerat Semringah usai Libur Idulfitri, Tahan Lama atau Sekadar Technical Rebound? (Foto: Freepik)
Saham Konglomerat Semringah usai Libur Idulfitri, Tahan Lama atau Sekadar Technical Rebound? (Foto: Freepik)

IDXChannel - Saham-saham emiten konglomerat rebound pada perdagangan Rabu (25/3/2026) pagi, meredakan tekanan jual yang sempat mendominasi pasar dalam beberapa pekan terakhir.

Penguatan ini terjadi seiring kembali dibukanya pasar domestik setelah libur panjang Nyepi dan Idulfitri.

Sejumlah saham dari berbagai grup besar mencatatkan kenaikan signifikan pada sesi pagi.

Dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 1,88 persen ke Rp8.150 per unit, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menguat 4,80 persen ke Rp1.420 per unit, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bertambah 5,10 persen ke Rp5.100.

Saham CUAN naik 3,11 persen ke Rp1.160, PTRO melonjak 9,49 persen ke Rp4.730, sementara CDIA menguat 4,49 persen ke Rp815.

Penguatan juga terlihat pada saham-saham Grup Bakrie. BUMI naik 9,71 persen ke Rp226, BRMS menguat 6,62 persen ke Rp725, DEWA melonjak 10,15 persen ke Rp434, VKTR bertambah 5,93 persen ke Rp715, dan BNBR naik 5,98 persen ke Rp124.

Dari kelompok emiten yang terkait Happy Hapsoro, RAJA menguat 9,38 persen ke Rp3.730, RATU naik 6,77 persen ke Rp5.125, dan BUVA melonjak 14,81 persen ke Rp1.085.

Sementara itu, saham Grup Sinarmas DSSA justru turun 1,46 persen ke Rp60.550. Dari Salim Group, PANI naik 1,88 persen ke Rp8.150 dan AMMN menguat 7,99 persen ke Rp5.000.

Rebound saham-saham konglomerat tersebut turut menopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 1,42 persen ke level 7.208 pada perdagangan Rabu pagi.

Rebound saham konglomerat ini tampak lebih sebagai respons teknikal setelah beberapa sesi sebelumnya mengalami tekanan jual cukup dalam.

Secara bulanan, kinerja saham-saham konglomerat masih tertekan signifikan, dengan mayoritas mencatat penurunan dua digit bahkan hingga di atas 30 persen.

Tekanan tersebut dipicu oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah kekhawatiran pasar terhadap pengumuman MSCI yang sempat membekukan perubahan indeks serta memberikan peringatan terkait potensi penurunan status Indonesia di kategori emerging market akibat isu transparansi kepemilikan saham.

Selain itu, keterbukaan data kepemilikan saham hingga level 1 persen memicu aksi jual investor asing dan domestik karena meningkatnya kekhawatiran terhadap struktur kepemilikan emiten.

Sentimen negatif juga diperkuat oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi domestik.

Risiko IHSG

Meski demikian, BRI Danareksa dalam risetnya pada Rabu (25/3) mengingatkan bahwa IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan setelah libur panjang, terutama akibat ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda.

Wacana gencatan senjata dan penundaan serangan Amerika Serikat (AS) terhadap pusat energi Iran selama lima hari sempat beredar di pasar. Namun, informasi tersebut dibantah oleh pihak Iran sehingga belum mampu meredakan kekhawatiran pelaku pasar.

BRI Danareksa menilai sentimen risk-off masih mendominasi, tercermin dari volatilitas harga komoditas seperti emas, minyak, dan gas alam, serta pelemahan bursa saham regional, terutama di kawasan Asia.

Dalam kondisi tersebut, IHSG diproyeksikan masih bergerak dalam tekanan dengan kisaran support 6.950-7.000 dan resistance 7.135-7.200. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement