sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Sentimen MSCI Membayangi, Simak Proyeksi IHSG Pekan Ini

Market news editor Nia Deviyana
19/10/2026 06:00 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini mengalami fase krusial usai pengumuman terbaru MSCI.
Sentimen MSCI Membayangi, Simak Proyeksi IHSG Pekan Ini. Foto: iNews Media Group.
Sentimen MSCI Membayangi, Simak Proyeksi IHSG Pekan Ini. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini mengalami fase krusial usai pengumuman terbaru MSCI di mana Indonesia menghadapi risiko perubahan status pasar saham dari Emerging Market menjadi Standalone Market setelah lembaga pemeringkat global itu membuka konsultasi soal hal tersebut.

IHSG ditutup melemah 11,57 persen ke 5.185,11 pada Jumat pekan lalu dan mengalami breakdown di bawah support 5.342 (level terendah 8 Juni 2026) sehingga mencetak level terendah baru pada tahun ini. 

Sebelumnya IHSG telah breakdown di bawah neckline 6.000 dari pola Head and Shoulders dan bergerak di bawah MA20, sehingga bias masih bearish. Terbentuknya gap down dari 5.863,78 ke area 5.404 akan menjadi resistance, jika terjadi rebound.

“Penurunan yang dalam membuka peluang technical rebound, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” ujar Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, dalam risetnya. 

Ardy menjelaskan dalam skenario moderat, konsolidasi bottoming diproyeksi di rentang 5.180-5.450. Setelah koreksi tajam 11,57 persen dan trading halt, pasar membutuhkan waktu untuk mencerna isu MSCI. 

“Data asing masih menunjukkan net buy di BBCA Rp473,3 miliar sepekan, indikasi awal bottom fishing. Strategi menunggu konfirmasi candle bullish dengan volume di atas 5.233,” ujarnya. 

Dalam skenario optimis, Ardy menilai ada potensi rebound menuju 5.600 jika Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil memberikan klarifikasi meyakinkan ke MSCI, OJK melanjutkan reformasi, dan harga minyak stabil, dan peluang penutupan gap menuju 5.800-an terbuka.

Dalam skenario pesimistis, breakdown lanjutan diproyeksi di bawah 5.000. Jika outflow terkait MSCI terealisasi dan eskalasi Hormuz mendorong rupiah melewati Rp18.100 per USD, IHSG berisiko menuju 4.950- 5.000. 

“Pada skenario ini, aset defensif seperti emas dan cash menjadi pilihan. Adapun level penting yang wajib diperhatikan yakni Support 5.180, 5.000, 4.850 dan Resistance 5.350-5.404, 5.600, 5.864,” kata dia.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement