Sebagai perusahaan yang mengimpor berbagai merek internasional, perseroan melakukan pembayaran dalam mata uang dolar AS, poundsterling, dan euro sehingga depresiasi rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan harga pokok penjualan.
"Setiap kali kami menerima pengiriman baru, kami harus menggunakan kurs terbaru. Untuk menjaga profitabilitas, kami melakukan lindung nilai (hedging) terhadap hampir 30 persen eksposur valuta asing," ujar manajemen dalam laporan hasil public expose pada Jumat (26/6/2026).
Perseroan menambahkan, kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah pada akhirnya akan tercermin pada penyesuaian harga jual sejumlah produk ritel. Langkah tersebut tidak dapat dihindari untuk menjaga margin usaha di tengah meningkatnya biaya impor.
(DESI ANGRIANI)