sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Media Sosial Dapat Memicu Depresi Remaja, Begini Penjelasan Kemenkes

Milenomic editor Niko Prayoga
11/10/2026 17:32 WIB
Konten media sosial rentan bagi kalangan remaja karena faktor perkembangan otak yang belum sepenuhnya matang dalam membedakan kenyataan dan ilusi.
Media Sosial Dapat Memicu Depresi Remaja, Begini Penjelasan Kemenkes. (Foto: istimewa)
Media Sosial Dapat Memicu Depresi Remaja, Begini Penjelasan Kemenkes. (Foto: istimewa)

IDXChannel—Media sosial dapat menjadi salah satu pemicu depresi, khususnya di kalangan remaja dan anak muda. Paparan konten visual yang masif kerap menyeret kesehatan mental anak muda ke dalam arus tekanan psikologis yang tak disadari.

Berdasarkan data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 186.629 orang dewasa dan lansia mengalami depresi. Sementara pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, angkanya telah mencapai 34.961 orang.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, mengungkapkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukkan bahwa 80 persen kelompok remaja hingga dewasa menjadi pengguna paling aktif dalam mengakses internet.

Akses kabar yang sangat mudah itu terkadang bisa membuat pengguna hanya sekadar melihat sisi bagus yang ditampilkan dari seseorang yang menjadi idola atau seseorang yang menjual konten di dalamnya. Sementara, sisi lain di balik apakah konten tersebut merupakan realitas sebenarnya atau hanya sekadar konten belaka terkadang terabaikan.

“Nah, kemudian internet itu sebetulnya mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Jadi dia akan melihat apa sih yang terjadi di seberang sana, misalnya idolanya seperti apa, kesuksesannya seperti apa? Padahal sebetulnya yang muncul di internet itu kan lebih ke arah hasilnya saja. Apakah real kehidupannya seperti itu? Mereka juga tidak tahu bagaimana perjuangannya ke sana, berapa lama dia harus bekerja, itu yang membuat orang hanya melihat hasilnya saja,” ujar Imran saat diwawancarai di Kantor Kementerian Kesehatan, Minggu (11/10/2026).

Kondisi itu, bisa saja berujung pada sikap membandingkan capaian pribadi dengan unggahan orang lain di media sosial yang akhirnya bisa menimbulkan kecemasan. Terlebih jika hal itu tidak dibatasi oleh pemahaman yang utuh.

“Itulah yang membuat orang jadi cemas kan, 'Lho, pada umurku ini dia kok sudah bisa beli Porsche,' gitu kan, 'Saya kok masih naik motor?' Nah, sehingga dia membandingkan dengan orang lain sebelumnya. Jadi memang upaya-upaya itu kan dari marketing pihak-pihak tertentu yang menjual lifestyle sebetulnya,” tutur dia.

Maka dari itu, Imran mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mentah-mentah menelan apa yang tersaji di layar ponsel. Banyak konten yang ditampilkan di media sosial telah dipoles sedemikian rupa dan bukan cerminan realitas kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, Imran menjelaskan bahwa kondisi tersebut bisa menjadi kian rentan bagi kalangan remaja karena faktor perkembangan otak yang belum sepenuhnya matang dalam membedakan antara kenyataan dan ilusi digital.

“Saya kira kita perlu melihat bagaimana maturitas seseorang untuk bisa menerima apakah ini kenyataan ataukah ini hanya sebuah ilusi, itu butuh kematangan berpikir. Dari referensi-referensi studi yang sudah dilakukan, memang otak itu sebetulnya matang pada usia sekitar 20-an. Jadi kalau sebelum umur 20, otak ini masih berkembang sehingga kalau ada sesuatu hal, otak itu mencernanya belum tahu secara benar nih, apakah itu kenyataan atau suatu impian,” jelas Imran.

Selain persoalan media sosial, Imran juga meluruskan stigma masyarakat yang kerap mengaitkan gangguan kesehatan mental atau depresi dengan tingkat religiusitas seseorang, seperti anggapan 'kurang bersyukur'. 

Menurutnya, depresi merupakan bentuk gangguan kejiwaan medis yang terjadi secara bertahap dan membutuhkan penanganan terukur, bukan sekadar respons atas kurangnya rasa syukur.

“Jadi, depresi sendiri itu kan memang ada gangguan, gangguan dari seseorang, dari kejiwaan seseorang yang tidak langsung depresi gitu. Jadi dia tuh akan memasuki tahap-tahap yang lain, misalnya dia kesulitan untuk menerima apakah ini suatu kenyataan atau ini suatu realitas,” tegas dia.

Imran menambahkan bahwa kapasitas tiap individu dalam merespons tekanan mental atau stresor sangat berbeda-beda. Karena itu, pendampingan medis menjadi langkah krusial ketika seseorang telah menunjukkan gejala depresi.

“Kemudian juga yang sering terjadi adalah bagaimana mereka tuh menerima stres. Nah, kadarnya orang menerima stresor itu juga tidak sama, sehingga ya oke, bersyukur memang penting, tetapi kalau sudah pada taraf yang dia memang butuh pengobatan, ya dia harus diobati. Kalau enggak, dia akan terus turun dan terus kondisinya tambah jelek,” ungkap Imran.

Sebagai langkah penanganan awal, penting bagi individu maupun keluarga untuk menyadari kondisi emosional dan tidak ragu mencari bantuan profesional medis ketika kesehatan mental mulai terganggu. Ia mengimbau masyarakat untuk rutin memanfaatkan layanan pemeriksaan dini guna mendeteksi potensi gangguan mental sedini mungkin sebelum terlambat.

“Skrining itu membantu kita untuk bisa kita mengetahui, mungkin kita merasa baik-baik saja, tetapi setelah dicek, 'Wah, ini kok mulai tanda bahaya nih,' gitu kan. Nah, jadi dia harus segera untuk mengakses suatu layanan kesehatan. Sehingga kalau seawal mungkin kita bisa mendapatkan pertolongan, itu tidak jatuh terus ke bawah,” pungkas dia.

(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement