sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Banyak Anak Keracunan MBG, Kepala BGN: Hancur Hatiku

News editor Rohman Wibowo
29/10/2026 14:33 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku sangat terpukul dan hancur hatinya setiap kali mendapati laporan anak-anak yang menjadi korban keracunan MBG.
Banyak Anak Keracunan MBG, Kepala BGN: Hancur Hatiku. (Foto Rohman W/IMG)
Banyak Anak Keracunan MBG, Kepala BGN: Hancur Hatiku. (Foto Rohman W/IMG)

IDXChannel - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengaku sangat terpukul dan hancur hatinya setiap kali mendapati laporan anak-anak yang menjadi korban keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baginya, menyaksikan para penerima manfaat jatuh sakit merupakan beban emosional terberat selama 100 hari pertama memimpin BGN. Terlebih, dia juga merasakan kekhawatiran mendalam yang sama sebagai seorang kepala keluarga.

"Selama saya jadi Kepala BGN 100 hari ini, adalah aku enggak bisa lihat orang sakit karena MBG. Hancur hatiku," kata Sudaryono dalam acara evaluasi MBG di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Keprihatinan tersebut mendorong BGN memantau secara ketat indikator keamanan pangan internasional melalui Index Per Million Serving (IPMS), yakni tolok ukur rasio insiden sakit perut per satu juta porsi sajian. 

Berdasarkan data pembanding global, risiko insiden di Amerika Serikat tercatat nyaris nol di level 0,1 kasus per satu juta porsi, Jepang sekitar 1 kasus, dan Uni Eropa di angka 1,3 kasus, sedangkan catatan Indonesia yang sempat bertengger di level 5,3 pada Januari 2025 kini berangsur ditekan dari 3,9 pada periode Januari–Juli menjadi 3,6 sepanjang Juli hingga Oktober.

"Skor kita saat ini masih di kisaran 3,6 dan itu relatif tinggi, sehingga kami menargetkan bisa mencapai level nol seperti di Amerika tanpa ada satu anak pun yang sakit," kata Sudaryono.

Mengacu pada hasil investigasi lapangan, Sudaryono menegaskan, keamanan hidangan MBG bertumpu mutlak pada kedisiplinan pengaturan waktu pengolahan dan temperatur makanan.

Bakteri pembusuk berkembang biak sangat agresif pada rentang suhu bahaya antara 5 hingga 60 derajat Celsius, sehingga hidangan wajib disajikan panas di atas 60 derajat atau disimpan dingin di bawah 5 derajat guna mencegah insiden fatal seperti di Karo, di mana ikan mentah dibiarkan pada suhu ruangan lebih dari 12 jam akibat lemari pembeku tidak muat.

"Makanan itu intinya hanya urusan waktu dan suhu, jika dibiarkan terlalu lama di rentang 50 sampai 60 derajat pasti basi dan meracuni orang," ujar dia.

Demi mencegah risiko keracunan berulang, BGN mengambil langkah radikal dengan menutup permanen lebih dari 2.000 dapur yang melanggar standar Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) akibat ulah oknum yang mengejar sistem bayaran flat Rp6 juta per hari dari regulasi lama tanpa memedulikan porsi 1.000 hingga 3.000 makanan. 

Pembersihan ini menyasar fasilitas memasak yang dinilai tidak masuk akal karena didirikan di samping kandang babi hingga di bawah sarang burung walet, termasuk menyeret para pengelola yang memalsukan dokumen SLHS ke ranah pemeriksaan kepolisian.

"Punya sertifikat sanitasi saja belum tentu layak apalagi yang tidak punya, maka seluruh dapur yang melanggar dan memalsukan izin langsung kami tutup permanen," kata Sudaryono.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement