sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BMKG Catat Masih Ada 1.297 Titik Panas, Asap Terdeteksi di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua

News editor Binti Mufarida
16/10/2026 11:22 WIB
Titik panas yang meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut sejalan dengan kondisi lahan yang semakin kering.
BMKG Catat Masih Ada 1.297 Titik Panas, Asap Terdeteksi di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua
BMKG Catat Masih Ada 1.297 Titik Panas, Asap Terdeteksi di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua

IDXChannel - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.297 titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia per 14 Oktober 2026.

Sumatera menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak, yakni mencapai 505 titik. Selain itu, terdeteksi asap di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

BMKG menyebutkan bahwa titik panas yang meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut sejalan dengan kondisi lahan yang semakin kering di sejumlah daerah, terutama di wilayah dengan periode tanpa hujan yang panjang.

“Berdasarkan hasil pemantauan pada 14 Oktober 2026, teridentifikasi 1.297 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi,” tulis BMKG dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

BMKG melaporkan sebaran terbanyak titik panas tercatat di Sumatera sebanyak 505 titik dan Kalimantan sebanyak 346 titik, disusul Papua dan Maluku sebanyak 330 titik. Sementara itu, Sulawesi terpantau memiliki 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik.

Selain itu, BMKG juga melaporkan bahwa berdasarkan pengamatan citra satelit Himawari pada 15 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB juga memperlihatkan keberadaan asap yang menyebar di sebagian besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

“Sebaran titik panas dan asap tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi perhatian, khususnya pada wilayah yang mengalami defisit hujan dan memiliki kondisi vegetasi yang kering,” paparnya.

BMKG pun mengingatkan kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di wilayah dengan curah hujan rendah dan vegetasi yang mengering.

(Nur Ichsan Yuniarto)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement